Demikian hasil kajian tim peneliti pusat penelitian ekonomi (P2E) LIPI yang diterima detikFinance, Minggu (16/12/2007).
"Hal ini diakibatkan oleh penurunan pertumbuhan ekonomi global di hampir semua kawasan akibat tingginya harga minyak internasional. Penurunan peertumbuhan ini akan menurunkan kinerja ekspor Indonesia," ungkap Kordinator tim kajian P2E Latif Adam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, nilai tukar rupiah akan berkisar Rp 9.200 hingga Rp 9.400 per US$ 1, inflasi antara 6,3-8,4 persen, harga minyak per barel US$ 72-90, dan SBI 7,7 hingga 8,8 persen.
Hasil kajian ini menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang utuh, harmonis dan sehat.
"Mengembangkan permintaan dalam negeri melalui penguatan sektor pertanian, percepatan investasi dan lebih mengefektifkan sektor fiskal adalah beberapa alternatif yang bisa membantu tumbuhnya perekonomian," ujarnya. (arn/sss)











































