Dia yakin kemarahan itu hanya akan terjadi dua minggu. Namun di sisi lain jika pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM, dampaknya terhadap anggaran bisa lebih lama dari itu.
"Setelah minyak habis baru kita kurangi subsidi betul. Kalau harga dinaikkan paling marahnya hanya 2 minggu, setelah itu gampang tinggal kurangi perjalanan, selesai," ungkap Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (18/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kira-kira 3 liter bensin dikeluarkan kalau macet. Bayangkan kalau 1 juta mobil, untuk subsidi bensin saja bisa sampai Rp 10 triliun per tahun. kalau kita naikkan BBM, otomatis orang mengerem," ungkap Kalla.
Kalla membandingkan harga bensin di Indonesia masih murah ketimbang di Kamboja Rp 8.000, sedangkan Thailand hampir Rp 8.000 per liter.
Menurutnya saat ini pemerintah sedang berupaya meningkatkan produksi minyak hingga 1,4 juta barel per hari.
"Harga minyak itu sebenarnya equal. Cuma kita tidak memakai kesempatan itu. Orang Timur Tengah makmur, orang Rusia makmur, akibat windfall profit," ungkapnya.
Kalla menuturkan pada zaman orde baru, tepatnya pada tahun 1985 produksi minyak bisa 1,7 juta barel per hari (bph) dengan dengan konsumsi 600.000 bph.
"Jadi kita ekspor 1 juta, karena itu pertumbuhan kita 8-9 persen. tapi waktu itu kita sangat tergantung pada orang asing, akhirnya kita dibodoh-bodohi," lanjut Kalla.
Dampak dari pembodohan itu, lanjut Kalla, sekarang produksi turun di bawah 1 juta barel per hari, padahal konsumsi BBM naik di atas 1 juta barel per hari.
(arn/ddn)











































