1.673 Penerbangan Delay-Dibatalkan Gara-gara Karhutla

1.673 Penerbangan Delay-Dibatalkan Gara-gara Karhutla

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 12 Okt 2026 08:30 WIB
Asap Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Penerbangan di Palangka Raya
Ilustrasi/Foto: Viory
Jakarta -

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat ribuan penerbangan terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan imbas dari asap yang mengganggu operasional penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa, mengatakan asap Karhutla mempengaruhi jarak pandang di sejumlah bandar udara. Setiap keputusan operasional penerbangan diambil dengan menjadikan keselamatan sebagai pertimbangan utama.

"Kami tidak akan berkompromi terhadap keselamatan. Apabila jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, penerbangan dapat mengalami keterlambatan, pembatalan, penundaan, maupun pengalihan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat," ujar Lukman dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara, penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, dan operator penerbangan, tercatat 1.673 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak Karhutla selama periode 11 Agustus-9 Oktober 2026.

ADVERTISEMENT

Dari jumlah tersebut, sebanyak 745 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 907 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 15 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain (divert), dan 6 penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base/RTB).

Selain dampak Karhutla, dalam periode yang sama juga tercatat 14 penerbangan dibatalkan akibat faktor lain. Faktor tersebut yaitu sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.

Penerbangan terdampak Karhutla tersebut dioperasikan oleh 10 maskapai. Citilink Indonesia mencatat jumlah 478 penerbangan yang terdampak karhutla, diikuti NAM Air sebanyak 300 penerbangan, Wings Air sebanyak 227 penerbangan, dan Super Air Jet sebanyak 161 penerbangan.

Selanjutnya, Surya Mataram mencatat 134 penerbangan terdampak karhutla, Batik Air sebanyak 112 penerbangan, Garuda Indonesia sebanyak 97 penerbangan, TransNusa sebanyak 94 penerbangan, Lion Air sebanyak 41 penerbangan, dan Sriwijaya Air sebanyak 29 penerbangan.

Pembatalan terbanyak dialami Wings Air dengan total 226 penerbangan, disusul Super Air Jet sebanyak 158 penerbangan, dan Citilink sebanyak 115 penerbangan. Adapun keterlambatan terbanyak dialami Citilink dengan 357 penerbangan dan NAM Air dengan 212 penerbangan.

Wilayah Rawan

Masalah penerbangan inbas karhutla banyak terjadi di bandara yang ada di wilayah Kalimantan. Mulai dari Bandara Supadio Pontianak, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Bandara H. Asan Sampit, Bandara Rahadi Oesman Ketapang, hingga Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Dampak juga terjadi di wilayah Sumatera, antara lain pada Bandara Sultan Thaha Jambi dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Selain itu, dampak serupa terjadi di wilayah Papua, antara lain Bandara Rendani Manokwari, Bandara Douw Aturure Nabire, Bandara Torea Fakfak, Bandara Utarom Kaimana, Bandara Babo Teluk Bintuni, dan Bandara Ewer Asmat.

Lukman menegaskan maskapai wajib memberikan pelayanan dan memenuhi hak penumpang yang terdampak keterlambatan maupun pembatalan penerbangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hak tersebut dapat berupa kompensasi, penjadwalan ulang (reschedule), maupun pengembalian biaya tiket secara penuh (full refund).

"Kantor Otoritas Bandar Udara kami tugaskan untuk mengawasi pemenuhan hak penumpang di lapangan. Kami tidak akan ragu memberikan sanksi kepada maskapai yang tidak menjalankan kewajibannya sesuai ketentuan," tegas Lukman.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads