Hal tersebut disampaikan oleh pengamat ekonomi, Ichsanudin Noorsy, dalam acara bertajuk 'Catatan Akhir Tahun Ekonomi Indonesia' di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (26/12/2007).
"Pertumbuhan ekonomi kita selalu dibilang bagus. Pertanyaannya, investasi siapa yang menopang pertumbuhan itu? ekspornya siapa? CPO? berapa besar milik Malaysia, berapa besar Indonesia?" ujar Noorsy.
Sebelumnya, pengamat ekonomi Faisal Basri pernah mengatakan, per Mei 2007 porsi investor lokal sekitar 4,87%, korporasi lokal 19,56% dan asing sebesar 67,11%. Sementara per November 2007, porsi investasi asing di Indonesia sudah mencapai 74%.
"Jadi pertumbuhan ekonomi yang diatas 6% itu bukan punya kita, karena investasi didominasi asing. Dengan demikian ekspor pun juga sebenarnya milik asing," kata Noorsy.
Pertumbuhan kredit di Indonesia yang di atas 20%, ia menekankan, dengan demikian juga menguntungkan asing. "Kan dari angka pertumbuhan kredit itu, mayoritas pada sektor konsumsi. Jadi, jika sebagian besar investasi kita dikuasai asing, maka konsumsi masyarakat juga sebenarnya menjadi milik asing," ujarnya.
"Oleh karena itu, saya kira angka pertumbuhan ekonomi yang dikatakan cukup bagus, belum tentu untuk Indonesia," jelas Noorsy.
Importing Inflation akibat kenaikan harga-harga komoditas di pasar dunia, lanjutnya, juga menjadi hal yang harus diwaspadai.
"Karena itu tadi, jika kita tidak menguasai investasi dan ekspor, maka kita akan bergantung pada impor, sehingga tidak akan menguasai konsumsi. Jika demikian sebenarnya ekonomi kita itu rapuh," tegas Noorsy.
(dro/ddn)











































