Keberlanjutan Sebagai Mesin Pertumbuhan Baru: Pelajaran Global untuk Indonesia

Keberlanjutan Sebagai Mesin Pertumbuhan Baru: Pelajaran Global untuk Indonesia

William Simadiputra - detikFinance
Rabu, 21 Okt 2026 12:41 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi
Foto: Angga Aliya/detikcom
Jakarta -

Selama bertahun-tahun, keberlanjutan sering dipandang sebagai biaya yang harus ditanggung perusahaan atau kewajiban untuk memenuhi tuntutan regulator. Namun pengalaman berbagai negara menunjukkan cerita yang berbeda. Dari Tiongkok hingga Denmark, dari Singapura hingga Jerman, keberlanjutan justru digunakan sebagai instrumen untuk memperkuat daya saing, menarik investasi, mendorong inovasi, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan tidak harus menjadi trade-off terhadap pertumbuhan. Sebaliknya, ketika dikelola dengan tepat, keberlanjutan dapat menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Perspektif ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan lanskap perdagangan global, dan meningkatnya tuntutan pasar terhadap transparansi serta ketahanan rantai pasok, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pertumbuhan tersebut agar mampu menciptakan lebih banyak nilai tambah, lapangan kerja yang lebih produktif, dan daya saing yang berkelanjutan.

Ketika Keberlanjutan Menjadi Strategi Pertumbuhan

Salah satu kesalahan yang sering muncul dalam diskusi mengenai keberlanjutan adalah melihatnya sebagai agenda yang terpisah dari pembangunan ekonomi. Padahal negara-negara yang berhasil justru mengintegrasikan keduanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi mereka, keberlanjutan bukan hanya tentang mengurangi emisi atau memenuhi standar lingkungan. Keberlanjutan digunakan untuk meningkatkan efisiensi energi, memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi risiko rantai pasok, mengembangkan industri baru, dan membuka akses ke pasar maupun investasi yang lebih luas.

Dengan kata lain, keberlanjutan menjadi instrumen untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional.

ADVERTISEMENT

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Berbagai Negara?

Tiongkok merupakan salah satu contoh yang paling menarik. Selama dua dekade terakhir, negara tersebut berinvestasi secara besar-besaran pada industri yang mendukung transisi energi, seperti kendaraan listrik, baterai, dan panel surya. Hasilnya tidak hanya terlihat dari perkembangan teknologi atau kapasitas produksinya, tetapi juga dari kemampuannya membangun industri baru yang berdaya saing global. Pelajaran utama dari Tiongkok bukan semata soal transisi energi, melainkan bagaimana memanfaatkan perubahan global untuk menciptakan peluang industri, inovasi, dan ekspor yang bernilai tambah tinggi.

Di Eropa, Denmark menunjukkan bagaimana keberlanjutan dapat memperkuat ketahanan ekonomi. Berangkat dari kebutuhan untuk mengurangi kerentanan energi setelah krisis minyak pada dekade 1970-an, Denmark secara konsisten membangun ekosistem energi angin selama beberapa dekade. Hasilnya, negara tersebut tidak hanya meningkatkan keamanan energinya, tetapi juga membangun industri yang mampu bersaing secara global. Pengalaman Denmark menunjukkan bahwa investasi dalam keberlanjutan dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang jauh melampaui tujuan lingkungan itu sendiri.

Jerman menawarkan perspektif yang berbeda. Sebagai salah satu basis manufaktur terbesar di dunia, Jerman memanfaatkan efisiensi energi, teknologi industri, dan inovasi untuk mempertahankan daya saing sektor industrinya. Bagi Jerman, keberlanjutan bukan hanya mengenai lingkungan hidup, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankan posisi industri nasional di tengah perubahan ekonomi global, tekanan energi, dan meningkatnya standar pasar internasional.

Sementara itu, Singapura memberikan pelajaran mengenai bagaimana keberlanjutan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi sektor jasa dan keuangan. Negara tersebut secara aktif membangun ekosistem keuangan berkelanjutan, pembiayaan transisi, perdagangan karbon, dan investasi hijau untuk memperkuat posisinya sebagai pusat keuangan regional. Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan tidak hanya mendukung agenda lingkungan, tetapi juga menjadi sarana untuk menarik modal, talenta, dan peluang bisnis baru ke dalam perekonomian.

Meskipun memiliki pendekatan yang berbeda, terdapat satu kesamaan dari seluruh pengalaman tersebut. Tidak ada satu pun negara yang menjalankan transformasi berkelanjutan semata-mata karena alasan lingkungan. Mereka melakukannya untuk memperkuat daya saing ekonomi, meningkatkan ketahanan energi, menarik investasi, menciptakan industri baru, dan memperluas akses pasar. Keberlanjutan menjadi berhasil justru karena diintegrasikan ke dalam strategi pertumbuhan nasional.

Perspektif ini juga sejalan dengan temuan dalam riset Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks yang diterbitkan oleh Bank DBS Indonesia. Riset tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin melihat keberlanjutan bukan lagi sebagai agenda kepatuhan atau reputasi semata, melainkan sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi, perubahan geopolitik, dan risiko iklim yang semakin nyata. Dengan kata lain, fokus mulai bergeser dari sekadar doing less harm menuju creating long-term value. Temuan ini mencerminkan pola yang juga terlihat di berbagai negara: keberlanjutan semakin dipandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan dan daya saing, bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi standar tertentu.

Indonesia Sudah Bergerak ke Arah yang Tepat

Kabar baiknya, Indonesia sesungguhnya telah memulai banyak langkah yang sejalan dengan praktik-praktik terbaik tersebut.

Pengembangan hilirisasi mineral untuk mendukung rantai pasok kendaraan listrik menunjukkan upaya menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi dari sumber daya alam yang dimiliki. Investasi pada energi terbarukan terus berkembang. Di sektor keuangan, berbagai inisiatif seperti Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, kewajiban pelaporan keberlanjutan, dan penguatan pengelolaan risiko iklim telah membantu membangun fondasi yang penting bagi transformasi ekonomi jangka panjang.

Perubahan cara pandang di kalangan pelaku usaha juga mulai terlihat. Semakin banyak perusahaan memahami bahwa efisiensi energi dapat menekan biaya operasional, penguatan rantai pasok dapat meningkatkan ketahanan bisnis, sementara investasi pada teknologi dan digitalisasi dapat mendukung produktivitas sekaligus tujuan keberlanjutan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan di Indonesia secara bertahap mulai bergerak dari sekadar isu kepatuhan menuju bagian dari strategi bisnis dan pertumbuhan.

Peluang Berikutnya: Dari Kepatuhan Menuju Daya Saing

Meski demikian, peluang Indonesia masih jauh lebih besar daripada pencapaian yang sudah diraih saat ini.

Salah satu pelajaran terpenting dari berbagai negara adalah pentingnya konsistensi kebijakan dalam jangka panjang. Transformasi industri, pembangunan kapasitas energi, maupun investasi teknologi membutuhkan kepastian arah yang jelas. Pengalaman global menunjukkan bahwa kepastian regulasi sering kali lebih penting daripada besarnya insentif yang diberikan.

Selain itu, agenda keberlanjutan perlu semakin dikaitkan dengan produktivitas dan daya saing. Terlalu sering keberlanjutan masih dipandang sebagai kewajiban pelaporan atau persyaratan kepatuhan semata. Padahal manfaat ekonomi terbesar justru muncul ketika perusahaan menggunakannya untuk meningkatkan efisiensi, mengembangkan produk baru, mengakses pasar internasional, serta mengelola risiko dengan lebih baik.

Dukungan terhadap pelaku usaha menengah dan rantai pasok domestik juga akan menjadi faktor penting. Transformasi berkelanjutan tidak akan memberikan dampak maksimal apabila hanya terjadi di perusahaan-perusahaan besar. Semakin luas praktik tersebut diadopsi oleh jaringan pemasok dan pelaku usaha lokal, semakin besar pula dampaknya terhadap produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.

Keberlanjutan sebagai Peluang Pertumbuhan

Pada akhirnya, pengalaman berbagai negara memberikan pesan yang cukup jelas. Keberlanjutan tidak harus dipandang sebagai beban terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, ketika diintegrasikan ke dalam strategi industri, investasi, inovasi, dan pembangunan ekonomi, keberlanjutan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi.

Indonesia memiliki banyak modal untuk memanfaatkan peluang tersebut: sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, basis industri yang terus berkembang, serta komitmen yang semakin kuat dari sektor publik dan swasta. Fondasi transformasi sudah mulai terbentuk.

Tantangan berikutnya bukan lagi apakah Indonesia perlu menjalankan agenda keberlanjutan. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat penerjemahan agenda tersebut menjadi investasi yang lebih besar, produktivitas yang lebih tinggi, dan kemakmuran yang lebih luas bagi masyarakat. Jika berhasil, keberlanjutan tidak hanya akan menjadi bagian dari masa depan Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi terpenting dalam dekade mendatang.

William Simadiputra

Head of Research DBS Indonesia

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads