Bukan Main Sulitnya Penyandang Difabel Dapat Kerja, Lamaran Tak Pernah Dilirik

Bukan Main Sulitnya Penyandang Difabel Dapat Kerja, Lamaran Tak Pernah Dilirik

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 13:51 WIB
Raka dan Faiz
Raka dan Faiz, penyandang tuli yang cari kerja di jobfair / Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Punya keterbatasan fisik atau disabilitas sering jadi batu sandungan yang amat besar untuk menuju dunia kerja. Kejelasan informasi, syarat administratif yang kaku, sampai penolakan tak kasat mata, harus dihadapi para pencari kerja dengan disabilitas.

Kisah ini seperti yang dialami Raka asal Pamulang, Tangerang Selatan dan Faiz asal Bekasi selaku pencari kerja tuli. Mereka benar-benar kesulitan untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Keduanya hadir ke acara job fair di SMESCO, pagi ini, dengan harapan menemukan perusahaan yang siap mempekerjakan mereka secara inklusif.

Raka mengungkapkan, ini bukan kali pertama dirinya berjuang di job fair. Ia tercatat sudah enam kali menghadiri bursa kerja dan melamar ke berbagai perusahaan. Namun dari sekian banyak lamaran yang dikirimkan, ia kerap mendapat diskriminasi dengan alasan tidak menerima disabilitas atau bahkan sang pemberi kerja mendadak 'hilang kabar'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sudah pernah datang ke job fair enam kali. Banyak perusahaan yang saya lamar, tapi tidak ada yang memberikan informasi kejelasan. Bahkan ada yang di awal bilang menerima lowongan administrasi, tapi begitu diinfokan kembali, ternyata tidak bisa menerima disabilitas," ungkap Raka dengan bantuan penerjemah saat ditemui di lokasi, Jumat (23/10/2026).

Raka menyebut kendala diskriminasi seperti ini cukup sering ia alami saat mencari kerja. Namun hal ini tidak mengecilkan niatnya untuk mencari kerja, yang bahkan di job fair kali ini, selain menyasar lowongan khusus disabilitas, ia juga memberanikan diri untuk mendatangi stan perusahaan umum.

ADVERTISEMENT

"Kami mencoba bertanya ke perusahaan umum yang belum secara eksplisit menerima disabilitas, mana tahu ada kesempatan," ujar Raka.

Hal senada disampaikan Faiz. Ia mengaku sudah tiga kali mendatangi acara job fair dan memasukkan lamaran ke delapan perusahaan berlainan. Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun panggilan yang menghampirinya.

Masalahnya menurut Faiz, ketidakpastian terkait seleksi ini sangat membebani pikiran mereka dan membuang banyak waktu. Padahal, para pencari kerja Tuli ini punya keterampilan teknis yang siap diadu dan dibutuhkan di dunia kerja.

Faiz misalnya, ia mengaku memiliki kualifikasi di bidang administrasi, desain grafis, hingga pembuatan konten seperti videografi dan penyuntingan video (video editing). Sementara Raka menguasai pengoperasian perangkat administrasi kantor seperti Microsoft Office (Excel, Word, PowerPoint) serta kemampuan dasar di bidang IT.

Faiz menegaskan bahwa kondisi disabilitas Tuli ini sama sekali tidak memengaruhi produktivitas maupun kualitas kinerja di mereka. Dengan percaya diri, ia menyatakan datang ke bursa kerja itu dengan membawa keterampilan yang tidak kalah dengan pencari kerja lainnya.

"Semua itu tergantung kemampuan. Harapannya HRD bisa membuktikan dan melihat dulu kemampuan kami. Jika memang punya keahlian, berikanlah kesempatan. Bekerja itu harus dilihat dari kompetensi yang nyata," tegas Faiz.

Selain masalah seleksi yang belum transparan, para pencari kerja disabilitas juga menyoroti syarat pendaftaran yang kerap membatasi mereka, seperti batasan usia hingga spesifikasi jurusan pendidikan.

Oleh karena itu, mereka mengingatkan pentingnya komitmen dunia usaha dalam mengimplementasikan amanat undang-undang terkait pengalokasian kuota tenaga kerja disabilitas.

"Harapan kami, seluruh perusahaan bisa lebih inklusif dan mau memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas. Mari pacu keterbukaan ini sesuai aturan undang-undang yang menetapkan kuota bagi pekerja disabilitas. Jangan asal menolak sebelum melihat potensi kami," pungkas Faiz.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads