×
Ad

Prabowo Minta KEK Bisa Sumbang Ekonomi RI hingga 1%

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 17:51 WIB
Wakil Ketua 2 Tim Pelaksana Dewan KEK Budi Santoso/Foto: Screenshot detikcom
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto meminta agar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi hingga 1% tahun depan. Hal ini sejalan dengan KEK yang berperan sebagai komponen utama dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.

"Dan tahun depan itu pak presiden sudah meminta kalau bisa tuh KEK itu memberi sumbangan setengah sampai 1% pertumbuhan dari KEK saja," kata Wakil Ketua 2 Tim Pelaksana Dewan KEK Budi Santoso dalam acara detikJateng-Jogja Awards, Jumat (23/10/2026).

Saat ini, tercatat ada 25 KEK yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, nilai investasinya baru sekitar Rp 382,1 triliun sejak dibentuk. Sepanjang Januari-September 2026, realisasi investasi KEK mencapai Rp 46 triliun atau sekitar 67% dari target tahunan sebesar Rp 69,1 triliun.

Kendati demikian, berdasarkan perhitungan bersama para ekonom, kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini masih berada di bawah 0,5%. Oleh karena itu, Budi menegaskan perlunya kerja keras dan strategi konkret untuk mendongkrak pencapaian tersebut.

"Setelah kami bekerja sama dengan beberapa ekonom kita hitung ya sumbangan terhadap pertumbuhannya berapa, itu masih kurang dari setengah, artinya kita masih harus kerja keras," imbuhnya.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya telah mengandalkan sejumlah langkah. Pertama, program hilirisasi. Menurut Budi, program hilirisasi merupakan program strategis karena dapat menarik investor secara mandiri berkat ketersediaan komoditas dalam negeri. Saat ini hilirisasi tidak hanya berfokus pada industri pengolahan smelter, tetapi juga berlanjut hingga produk-produk turunannya.

Kedua, substitusi impor. Budi menyoroti masih tingginya angka impor untuk barang konsumsi hingga permesinan. Hal ini membuktikan bahwa pasar Indonesia masih sangat besar dan selama ini dinikmati oleh para pelaku usaha di luar negeri.

Di sektor kesehatan, Budi menyebut sekitar Rp 200 triliun per tahunnya lenyap karena banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Melalui KEK Kesehatan di Sanur, Bali, pemerintah berupaya menarik masyarakat untuk mendapatkan layanan medis berstandar internasional di dalam negeri.

"Nantinya ini yang substitusi impor ini menjadi perhatian kita juga. Mana-mana yang bisa nih. Kalau Anda mau market kita, berproduksilah di sini," imbuhnya.

Ketiga, pengembangan teknologi. Budi menerangkan pengembangan KEK diarahkan pada sektor teknologi, termasuk pembangunan pusat data. Namun, ia memastikan pihaknya tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Kendati begitu, ia mengakui ketidakpastian geopolitik global juga menjadi perhatian. Namun, ia melihat hal tersebut sebagai sebuah peluang.

Ia menilai situasi geopolitik dunia membuat para investor global mengubah pola bisnisnya. Jika sebelumnya rantai produksi terpusat di wilayah tertentu seperti Timur Tengah, kini para investor tidak lagi hanya bergantung pada satu atau dua rantai pasok saja.

Investor memerlukan banyak cadangan rantai pasok agar proses produksi mereka tidak terganggu ketika terjadi perubahan atau krisis. Peluang inilah yang ditangkap saat dibentuknya KEK Industropolis Batang di tengah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.




(rea/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork