"Tahun-tahun lalu kita bikin 2.000-3.000 terompet. Tahun ini cuma berani buat 1.000 buah, karena peminatnya lagi sepi," keluh Husen, salah satu penjual terompet di Jl. Hang Tuah Raya, Jakarta, Minggu (30/12/2007).
Husen yang sehari-hari berdagang usaha mainan anak termasuk terompet, menyatakan penurunan penjualan terjadi hingga 50%, padahal harga bahan bakunya sedang mengalami kenaikan harga. Meskipun demikian, memang saat tahun baru penjualan biasanya naik 50% dibanding hari biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan senada juga disampaikan Warmin, penjual terompet musiman di Jalan Kemang raya.
"Kenaikan harga bahan bakunya bisa mencapai 90% lebih. Harga kertas saja, kalau tahun lalu harganya Rp 50 ribu, tahun ini sudah Rp 125 ribu," ujar warmin.
Namun dengan kondisi biaya produksi yang naik, harga penjualan tidak bisa dinaikkan.
"Wong sekarang lagi sepi pembeli, kalau harga kita naikkan ya makin nggak ada yang beli. Dari tanggal 25 Desember saya jualan sampai sekarang baru laku sekitar 250 saja," keluh Warmin.
Warmin mengungkapkan, untuk tahun baru kali ini ia memilih untuk menurunkan jumlah produksi menjadi sekitar 1.000 buah terompet, dengan modal sekitar Rp 2 juta. Padahal tahun lalu dengan modal yang sama bisa memproduksi sampai 2.000 buah.
"Harga jualnya mulai Rp 4 ribu hingga Rp 15 ribu tergantung jenisnya, harga ini tidak mengalami kenaikan. Tapi namanya usaha ya kadang untung, kadang rugi," ungkap Warmin.
(dro/arn)











































