Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menanggapi sejumlah pimpinan perusahaan kelapa sawit besar asal Indonesia memenuhi panggilan pemerintah Singapura. Ia memastikan hal tersebut tidak akan mengganggu neraca dagang Indonesia.
"Enggak, enggak ada masalah," ujar Budi singkat saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).
Pemanggilan itu menindaklanjuti dugaan penyebab kabut asap. Ada tiga pejabat Singapura yang memanggil para petinggi perusahaan sawit Indonesia, mulai dari Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong, Menteri Dalam Negeri K. Shanmugam, dan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari CNA, pemerintah Singapura menyatakan bos-bos perusahaan ini berjanji untuk bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan yang dilakukan Singapura.
Para menteri tersebut didampingi oleh Penasihat Senior (Senior Counsel) Davinder Singh serta sejumlah pejabat senior dari Kejaksaan Agung (Attorney-General's Chambers), Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA), dan Kementerian Hukum.
Perwakilan perusahaan yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung kurang dari setengah jam tersebut antara lain dari Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Resources, Wilmar International, dan Sinar Mas Group.
Pemerintah Singapura berencana untuk mengajukan amendemen terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act) pada sidang parlemen mendatang. Langkah ini bertujuan memberikan kekuatan hukum pada proses penilaian, sehingga perusahaan yang menolak menunjuk penilai atau gagal bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan akan dianggap melakukan pelanggaran hukum.
"Saya akan mengajukan amandemen terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas pada sidang parlemen berikutnya untuk memberikan kekuatan hukum pada kerangka kerja ini. Perusahaan yang tidak mematuhi ketentuan tersebut akan dianggap melakukan pelanggaran. Kami akan menggunakan wewenang kami untuk melindungi kesehatan masyarakat Singapura," ujar Grace Fu.
(rea/ara)
