Neraca Dagang RI Surplus US$ 3,36 Miliar, tapi Migas Defisit US$ 23 Miliar

Neraca Dagang RI Surplus US$ 3,36 Miliar, tapi Migas Defisit US$ 23 Miliar

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 02 Nov 2026 11:58 WIB
Setelah beberapa bulan mengalami defisit alias tekor, pada Mei 2019 posisi neraca perdagangan berbalik menjadi surplus.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Neraca perdagangan barang Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 3,36 miliar pada September 2026. Indonesia masih bisa mempertahankan surplus perdagangan di tengah tingginya nilai impor yang melonjak hampir 20%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan surplus neraca perdagangan pada September terutama ditopang oleh sektor nonminyak dan gas (nonmigas).

"Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar. Surplus neraca perdagangan pada September 2026 terutama disebabkan oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 5,67 miliar," kata Ateng di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Surplus nonmigas terutama berasal dari perdagangan lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sementara itu, perdagangan minyak dan gas (migas) masih menjadi pemberat neraca perdagangan. Pada September 2026, sektor migas mencatatkan defisit sebesar US$ 2,31 miliar. Defisit tersebut terutama disumbang oleh komoditas hasil minyak dan minyak mentah.

ADVERTISEMENT

Secara kumulatif, neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencatatkan surplus US$ 10,61 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencapai US$ 34,21 miliar. Namun, capaian itu tergerus oleh defisit perdagangan migas sebesar US$ 23,60 miliar.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads