Demikian semangat yang dikobarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada pelaku pasar dalam pidato pengenalan logo baru Bursa Efek Indonesia (BEI), di Gedung BEJ, Rabu (2/1/2008).
SBY mengatakan banyak prediksi bahwa akan terjadi resesi atau slow down ekonomi pertumbuhan global dari 5,2% di 2007 menjadi 4,8% di 2008. Slow down itu, menurut SBY masih bisa dipahami karena ketatnya pasar keuangan, harga minyak yang meningkat serta tekanan inflasi global akibat food dan energy. Karena di negara maju food itu mulai digunakan untuk biofuel yang menyebabkan inflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi Indonesia di 2008 menurut SBY tetap positif dan baik. Karena dampak subprime mortgage hampir tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap sektor keuangan Indonesia. "Kalau volatility di oil market itu masih bisa kita atasi, karena kita juga produsen jadi itu akan ada plus dan minusnya. Ada organisasi produsen minyak di luar OPEC yang memprediksi harga minyak akan mencapai US$ 80-85 per barel lagi, itu bagus dari pada harga di US$ 95-100 per barel," tutur SBY.
Untuk ekspor juga menurut SBY tidak mengkhawatirkan karena produk-produk pertanian harganya bagus, begitu juga tambang.
"Jadi kalau kita paham fundamental isu dari ekonomi maka itu akan bagus untuk mempertahankan ekonomi ini dan masih ada opportunity di tahun 2008. Jadi kita juga tidak perlu takut slow down ekonomi akan ganggu investasi tapi kita perlu hati-hati," jelas SBY.
(ir/qom)











































