Demikian disampaikan Direktur Pembangkitan dan Energi Primer PLN ALi Herman Ibrahim disela open house Natal dan
Tahun Baru di departemen ESDM, Jakarta, Rabu (2/1/2008).
"PLTU Tanjung Jati dan PLTU Cilacap kita turunkan 50 persen," katanya.
Penurunan operasional ini untuk menghemat stok batubara yang mulai menipis di kedua pembangkit itu. Misalnya saja PLTU Tanjung Jati yang mulai beroperasi minim sejak 31 Desember 2007 karena. stok batubaranya kini tinggal
sekitar 55 ribu ton.
Dalam kondisi normal, pembangkit berkapasitas 1.360 MW ini membutuhkan 11 ribu ton batubara per hari. Kapal pengangkut yang tidak bisa berlabuh di PLTU Tanjung Jati menangkut sekitar 120 ribu ton batubara.
"Makanya kita hemat dengan menurunkan operasional," lanjutnya.
Sementara untuk PLTU Cilacap yang berkapasitas 600 MW membutuhkan 6.000 ton batubara per hari.
Untuk tetap mengamankan pasokan listrik di sistem Jawa, PLN terpaksa memaksimalkan pembangkit-pembangkit lain dengan berbahan bakar BBM seperti PLTGU Grati, PLTGU Tambak Loroh dan PLTGU Muara Tawar.
Selain itu PLN juga berencana menambah kapasitas stok batubaranya yang selama ini hanya 20 hari menjadi 1,5 bulan.
(lih/qom)











































