Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ali Rosidi di Gedung BPS, Jalan Sutomo Jakarta, Rabu (2/1/2008).
"Penurunan ekspor terjadi karena panen raya CPO yang sudah lewat yakni pada September hingga Oktober 2007. Jadi dalam 2 bulan ini terjadi tren penurunan ekspor," ujarnya.
Selain CPO, ekspor bijih kerak dan abu logam juga mengalami penurunan dari US$ 443,5 juta menjadi US$ 248 juta.
Secara total ekspor nonmigas November 2007 tercatat sebesar US$ 7,73 miliar, turun 6,51 persen dibanding Oktober 2007.
Ekspor non migas ke AS mencapai angka terbesar yakni US$ 1,02 miliar, disusul Jepang US$ 924,1 juta dan SIngapura US$ 751,9 juta. Ekspor ke Uni Eropa sebesar US$ 1,07 miliar.
Selama Januari-November ekspor 100,07 miliar atau naik 13,04 persen dibanding perioe yang sama tahun lalu. Sedangkan ekspor non migas mencapai US$ 83,53 miliar.
Sementara itu impor pada november 2007 justru naik 20,45 persen atau mencapai US$ 7,54 miliar dibanding Oktober 2007 sebesar US$ 6,26 miliar.
Periode Januari-November impor tercatat sevesar US$ 67,57 miliar atau naik 20,45 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Impor terbesar terjadi pada impor mesin pesawat dengan nilai US$ 8,57 miliar atau 17,81 perseb dari total impor non migas.
Negara pemasok impor terbesar masih China yakni US$ 7,28 miliar diikuti Jepang US$ 5,98 miliar, AS US$ 4,33 miliar.
(ddn/qom)











































