Demikian dinyatakan pengamat perminyakan LP3ES Pri Agung Harmanto ketika dihubungi detikFinance, Kamis (3/1/2008).
"Itu janggal, kenapa tidak masuk lifting dari dulu saja? Kesannya seperti utak atik angka supaya target 1.034 juta barel tercapai," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena ia memprediksi akan terjadi keterlambatan produksi di beberapa lapangan. "Dari data saya, ada beberapa lapangan yang akan terlambat. Seperti Cepu, mungkin baru produksi 2009 karena masalah tanah belum selesai juga," lanjutnya.
Selama ini, minyak produksi Chevron dihitung sebagai produksi tapi tidak sebagai lifting, karena tidak memberikan penerimaan negara secara langsung.
Dengan dimasukkannya produksi Chevron kedalam lifting minyak, maka tidak ada lagi perbedaan angka lifting dan produksi minyak Indonesia. (lih/ir)










































