Demikian dikatakan Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Jumat (4/1/2008).
"Sampai Mei 2008 saja masih ada stok sekitar 355 ribu ton. Kalau ditambah impor disaat panen raya harga gula akan lebih jeblok, kondisi petani akan memprihatinkan," keluh Arum.
Arum menjelaskan idealnya dengan harga dasar gula Rp 4.900/kg, harga lelang gula adalah Rp 5.500/kg. Tapi sejak 2-3 bulan lalu harga lelang terjun di bawah Rp 5.000/kg karena over supply sehingga petani mengalami kerugian.
Menurut Arum, saat ini bukan waktu yang tepat melakukan impor 200 ribu ton gula meskipun pemerintah menyatakan hanya untuk cadangan stok. Apalagi dengan rencana pemerintah yang akan memberikan izin impor tersebut kepada dua BUMN yakni Perum Bulog dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang notabene tidak termasuk dalam importir terdaftar.
"Isunya yang dapat izin adalah PPI dan Bulog, padahal berdasarkan Keputusan Menperindag nomor 527 tahun 2004 importir terdaftar adalah perusahaan gula yang bahan baku 75% dari petani seperti PTPN. Dengan begitu, pelaku impor bisa menjaga supply dan demand. Ada apa di balik ini, ada kekuatan tertentu mendesak penentu kebijakan impor," ungkapnya.
Arum menjelaskan, apabila yang melakukan impor bukan importir terdaftar, yang terjadi petani tidak akan mendapatkan dana talangan. Karena selama ini yang memberikan talangan adalah importir terdaftar.
(arn/ir)










































