Ford dan Chevy Bakal Kepayahan Capai Target di 2008

Ford dan Chevy Bakal Kepayahan Capai Target di 2008

- detikFinance
Sabtu, 05 Jan 2008 17:04 WIB
Jakarta - Perlambatan ekonomi AS diperkirakan akan membawa dampak pada industri otomotif AS di tahun 2008. Beberapa produsen mobil seperti Ford dan Chevy disinyalir tidak akan mencapai target penjuala di tahun 2008.

"Pimpinan Chevrolet dan Ford menyatakan mampu menjual 3 juta mobil di tahun 2008. Tapi mereka sudah cukup beruntung jika mampu menyentuh angka 2,3 juta unit," tulis Wall Street Journal (WSJ), Sabtu (5/1/2007).

Dijelaskan untuk mencetak angka penjualan sebesar 2 juta unit di pasar AS yang sedang melambat, boleh dibilang cukup sulit. Namun, Toyota Motor Corp, hingga akhir November 2007 lalu sudah mencetak angka penjualan yang melampaui penjualan kedua produsen tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu dipicu oleh melonjaknya permintaan Toyota Prius, yang menggunakan bahan bakar hibrida gas-elektrik, sebagai ganti bahan bakar minyak.

Sementara pada 2008, diperkirakan General Motors Corp, Ford Motor Co, dan Chrysler LLC akan memangkas junlah unit produksinya, sehingga di akhir tahun nanti produsen itu tidak perlu memberikan potongan harga yang terlalu drastis.

Namun produsen mobil asal Jepang, Toyota dan Honda masih menargetkan peningkatan angka penjualan di AS pada 2008 ini. Kedua produsen tersebut diperkirakan masih mengunggulkan produk-produk ramah lingkungan untuk dilempar ke pasar AS.

Untuk mengantisipasi tingkat persaingan yang ketat dari Jepang, Chrysler juga berencana meluncurkan tiga produk ramah lingkungan. Namun kemungkinan belum beroperasi dalam waktu dekat. Sementara GM berencana meluncurkan prototipe mobil bahan bakar hibrida, yang diberi nama Chevy Volt pada Januari ini.

Meningkatnya produksi mobil ramah lingkungan, merupakan suatu respons yang nyata terhadap isu pemanasan global, baik dari sisi produsen mobil maupun dari sisi konsumen.

"Jadi tantangan cukup berat yang harus dihadapi industri otomotif AS di tahun 2008 adalah kemampuan meningkatkan inovasi produk ramah lingkungan, dan pengendalian produksi guna menghadapi perlambatan ekonomi AS," tulis WSJ. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads