Demikian disampaikan direktur jenderal IKM, Fauzi Azis, di kantornya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Senin (7/1/2008).
"Angkanya belum bisa saya perkirakan. Namun, sektor logam dan elektronik yang paling berpotensi terkena dampak kenaikan elpiji," ujar Fauzi.
Untuk sektor IKM lainnya, ia melanjutkan, dampak kenaikan tersebut tidak terlalu besar. Alasannya, mayoritas sektor IKM menggunakan elpiji 3 kg dan 12 kg. Sementara Pertamina tidak menaikkan harga elpiji 3 kg dan 12 kg.
"Saya kira Pertamina sudah melihat hal itu, jadi mereka tidak menaikkan harga elpiji 3 kg dan 12 kg," tutur Fauzi.
Sementara di sektor IKM logam dan elektronik, dampaknya bisa cukup berpengaruh.
"Karena di dua sektor itu, elpiji digunakan sebagai bahan baku. Lain halnya dengan sektor IKM lainnya, yang menggunakan elpiji hanya sebagai bahan penunjang produksi, bahkan ada IKM yang tidak menggunakan elpiji," ujar Fauzi.
Namun saat ini, depperin masih melakukan penghitungan lebih lanjut. Jika ternyata ditemukan dampaknya cukup signifikan, maka antisipasinya depperin akan meminta Pertamina memberikan potongan harga bagi sektor IKM yang terkena dampak kenaikan tersebut.
Seperti diketahui, Pertamina per 7 Januari menaikkan harga elpiji bulk dan 50 kg. Untuk elpiji 50 kg naik Rp 2.080,33 atau 35,5% menjadi Rp 7.932,33/kg. Sementara untuk elpiji bulk naik Rp 1.477,74 atau 25,2% menjadi Rp 7.329,74/kg.
(dro/qom)










































