Para pengusaha hotel pun hanya bisa terkaget-kaget dan bingung. Pasalnya, biya energi mengambil porsi 12-13% dari total pendapatan hotel.
Hal tersebut disampaikan Asosiasi Pimpinan Keuangan Hotel di Jakarta Diyak Mulahela dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Senin (7/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diyak mengaku sampai saat ini belum mengetahui kenaikan harga elpiji yang sedianya diberlakukan Pertamina mulai hari ini.
"Saya belum tahu soal kenaikan ini, yang pasti kenaikan harga hingga 35,5% sangat memberatkan kami, disaat harga bahan pokok makanan juga naik. Artinya biaya food cost akan naik, sehingga larinya ke tarif hotel," ujarnya.
"Padahal banyak hotel yang akan mengalihkan untuk air panas di kamar, mengalihkan dari pakai listrik ke gas," ujarnya.
Menurutnya, saat ini pengelola hotel cukup kesulitan untuk menaikan tarif hotel mengingat kompetisi yang semakin ketat antar hotel. Tapi kalau hal itu tidak dilakukan yang terjadi adalah kerugian, atau pemangkasan karyawan.
"Kita ini kiri kena kanan kena, lagi-lagi masalah energi. Gimana investor mau masuk ke sektor ini," keluhnya.
Menurutnya, iklim investasi untuk sektor perhotelan sedang tidak baik. Padahal dahulu saat 'Visit Indonesia Year 1991', tingkat pertumbuhan kamar menjadi naik dari 20 ribu menjadi 41 ribu. Namun dengan naiknya segala biaya energi akan membuat enggan investor masuk.
(arn/qom)










































