Akibatnya, banyak pedagang mie kekurangan modal untuk melakukan produksi. Karena kondisi yang semakin berat ditambah dengan sulitnya mencari minyak tanah, para pedagang mie pun mengadu ke Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
"Memang bagi pengecer kasihan, kalau naikin harga pembelinya hilang, mereka tinggal berjuang saja. Penghasilannya habis untuk biaya produksi," ungkap Ketua Paguyuban Tunggal Rasa Wakidi dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (8/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pedagang mie beli minyak tanah sekarang Rp 5ribu-Rp 6 ribu, padahal seporsinya sekitar Rp 7 ribu. Mau pakai gas belum dapat alatnya," keluhnya.
Paguyuban Tunggal Rasa yang membawahi 450 produsen mie dengan penjaja mie 125 ribu orang dan merupakan binaan dari Bogasari ini mengaku kecewa dengan hasilnya pembicaraan dengan Mendag. Mereka kecewa karena Mendag hanya mengimbau untuk menurunkan harga mie dan tidak mendapat solusi.
"Kita maunya ada intervensi dari pemerintah supaya harga terigu bisa turun seperti semula. Dulu paguyuban bisa jual mie sampai 50-70 sak per hari, sekarang tinggal 10 sak karena pedagang mie mengurangi pembelian," ujarnya. (arn/qom)











































