Pertumbuhan Ekonomi akan Mengalir ke Luar Jawa

Pertumbuhan Ekonomi akan Mengalir ke Luar Jawa

- detikFinance
Rabu, 09 Jan 2008 18:11 WIB
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi di luar Jawa akan mulai menggeliat dalam lima tahun ke depan. Naiknya harga komoditi akan membuat daerah luar Jawa lebih makmur.

Sementara di Pulau Jawa, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla industrinya akan mengalami banyak tantangan dan menjadi mahal serta pemasarannya tidak mudah.

Terlebih dengan naiknya harga komoditi dunia yang sebagian besar dihasilkan daerah akan membuat perekonomian yang makmur bergerak ke luar Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pendapatan di Jawa menurun tapi di luar Jawa, substitusi minyak itu ada di luar Jawa, karet di Sumatera, batubara di Kalimantan, komoditi lainnya di Sulawesi. Maka akan terjadi shifting pendapatan, dan akan terjadi perubahan-perubahan kemakmuran di luar Jawa," ungkap Kalla ketika menerima delegasi Universitas Andalas di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (9/1/2008).

Menurut Kalla kondisi itu akan terjadi kira-kira dalam dua sampai lima tahun. Kalau ini terjadi, maka tentu akan mengurangi urbanisasi ke pulau Jawa.

"Yang akan terjadi tentu ekonomi akan tumbuh di luar Jawa lebih besar. Dan tentu dibutuhkan investasi lebih besar di luar Jawa," cetusnya.

Kalla juga meyakini kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus level US$ 100 per barel akan meningkatkan kekuatan ekonomi China.

Produk murah asal China akan membanjiri Indonesia dibanding produk negara lainnya. Tentunya hal ini akan berimbas ke pertumbuhan industri dalam negeri yang terganggu.

"Pertama beban industri agak berat, tetapi ada peningkatan di sisi produksi yang mensubstitusi minyak. Karena itu harga CPO naik, kelapa sawit naik, jagung naik. Yang kedua adalah akibat subprime mortgage maka ekonomi AS dan Eropa menurun. Yang terjadi China yang ekonominya berdampak dia punya produksi akan jual murah ke negara lain," kata Kalla.

Menurut Kalla negara pertama yang akan menjadi tujuan serbuan produk murah itu adalah Indonesia karena jumlah penduduknya yang besar.

"Akan kena industri kita, jadi tekstil Indonesia akan kena, mainan anak-anak, apapun itu. Apa akibatnya ekonomi nasional kita? Akan terjadi shift pendapatan dari Jawa ke luar Jawa," ungkapnya.

(arn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads