Perusahaan patungan ini akan melayani rute domestik di negeri Kangguru itu. Lion Air akan memiliki 49 persen saham di perusahaan itu, sementara Sky Air World memegang 51 persen sisanya.
Chief Executive Sky Air World David Charlton membenarkan hal tersebut ketika dikonfirmasi seperti dilansir news.co.au, Jumat (11/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut aturan di Australia, investor asing hanya boleh memiliki maksimal 49 persen saham di maskapai lokal. Tapi Presiden Lion Air Rusdi Kirana sebelumnya menyatakan perusahaannya akan menjadi operator dan mengendalikan bisnis tersebut.
Namun Charlton tidak mengakui hal tersebut. Ia hanya menyatakan siapa yang akan memimpin belum ditentukan.
Demikian juga mengenai rute mana yang akan diambil, frekuensi penerbangan, dan harga tiket yang masih diproses. Namun Indonesia dan Thailand disebut-sebut akan menjadi bagian dari jaringan pelayanannya selain pelayanan domestik.
"Kami akan menjadi titik penghubung yang tak sekedar melayani tapi juga menciptakan penawaran baru yang fantastik bagi konsumen," kata Charlton.
Ia juga menegaskan bahwa Lion Air Australia akan menjadi angkutan yang menawarkan kelas bisnis dan ekonomi yang berkelas.
"Kami akan menawarkan nilai yang sepadan untuk pelancong bisnis dan liburan, termasuk koneksi antara Australia dan tetangganya, Indonesia," jelasnya.
Lion Air beroperasi melayani lebih dari 200 penerbangan sehari dari Jakarta ke beberapa tujuan regional dengan sekitar 40 pesawat.
Sementara Sky Air Services diluncurkan pada 2006 dengan mengadalkan sebuah pesawat jet penumpang bekas asal Brasil yang bertipe satu tempat duduk (single seat), Embraer. Maskapai ini mengoperasikan penerbangan pendek. (lih/qom)










































