Bubble atau gelembung yang terjadi di bisnis properti sangat tergantung dari pembiayaan perbankan. Ini sangat terkait dengan aliran hot money dari investor asing.
Jika sewaktu-waktu investor asing menarik uangnya secara serentak, maka bisnis perumahan Indonesia bisa kolaps atau bubble itu menjadi pecah
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tidak diantisipasi, bisa saja tumbuh bubble di sektor lain," kata Hendri.
Tanda-tanda adanya bubble terlihat terutama di bisnis properti tingkat menengah yang kebanyakan dananya berasal dari perbankan.
"Ada indikator ke arah kemacetan. Karena properti terutama kelas menengah kan dibiayai perbankan," katanya.
Sementara untuk properti kelas atas, kebanyakan pendanaan berasal dari pasar finansial.
Tanda yang terlihat antara lain di kios atau ruko di tempat perbelanjaan. Sistem penggunaannya tidak lagi sistem sewa, melainkan sistem bagi untung.
(lih/arn)











































