Pembangkit tersebut pertama, PLTU Buntoi, Kalimantan Tengah (2x60 MW) senilai US$ 132,2 juta dengan konsorsium PT Mega Power Mandiri, Shangdong Electric Power Construction, dan China National Heavy Machinery.
Kedua, PLTU Tanjung Balai Karimun-Kepulauan Riau (2x7 MW) senilai US$ 18,4 juta. Ketiga, PLTU Kendari-Sulawesi Tenggara (2x10 MW) senilai US$ 15,9 juta. Keempat, PLTU Keliwumbu Ende-Flores NTT (2x7 MW) senilai US$ 19,7 juta dengan pengembang yang sama, konsorsium Shandong Machinery I&E Group dan PT Rekadaya Elektrika, anak usaha PLN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(14/1/2008).
"Konstruksi unit satu 24 bulan, sedangkan penyelesaian unit duanya tambah dua bulan
lagi. Jadi mungkin selesai Januari dan Maret 2010," katanya.
Ia juga menjelaskan penghematan di Riau akan mencapai Rp 240 miliar per tahun. Di
NTT sampai Rp 242 miliar, di Kendari Rp 339 miliar dan di Kalimantan Rp 2,17 triliun.
Sementara kebutuhan batubara untuk Riau dan NTT mencapai 120 ribu ton per tahun,
Kendari 200 ribu ton, dan Kalimantan Tengah 600 ribu ton. (lih/ir)











































