Krakatau Steel Kaji Penerbitan Global Bond

Updated

Krakatau Steel Kaji Penerbitan Global Bond

- detikFinance
Selasa, 15 Jan 2008 09:21 WIB
Jakarta - Perusahaan BUMN, PT Krakatau Steel (KS) sedang menjajaki penerbitan global bond dan pinjaman murah dari ECA untuk biaya revitalisasi dan ekspansi bisnis dari hulu ke hilir senilai US$ 170 juta.

Manajemen KS belum bisa merinci komposisi antara penerbitan global bond dengan dana internal.

Demikian dikatakan Dirut KS, Fazwar Bujang dalam jumpa pers di gedung KS, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (14/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KS kini masih fokus pada masalah revitalisasi tersebut sebelum melakukan privatisasi. Sedangkan masalah privatisasi yang dikabarkan akan dilakukan melalui mitra strategis sebelum IPO belum ada keputusan resmi.

Direksi KS menyatakan belum pernah menerima instruksi dari Menneg BUMN mengenai rencana private placement atau strategic investment.

"KS tidak pernah menerima instruksi dari Menneg BUMN untuk melakukan IPO, informasi ini menyulitkan kami karena kami sedang melakukan revitalisasi yang membutuhkan pendanaan. Yang pernah kami terima adalah instruksi untuk privatisasi non listing ," ungkap Dirut KS, Fazwar Bujang dalam jumpa pers di gedung KS, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (14/1/2008).

Menurutnya kabar KS akan segera dijual ke mitra strategis kini telah mengganggu aktivitas produksi KS karena pekerja KS lebih sibuk membahas rumor ini. Padahal pegawai harus fokus pada revitalisasi dan ekspansi bisnis.

"Ditambah adanya isu yang mengatakan bahwa KS akan dijual karena selalu merugi. Sepanjang sejarah KS dari tahun 70-an kita berdiri, hanya 2 kali kita rugi itu pada tahun 2001 dan 2006," ujarnya.

Fazwar membeberkan pada tahun 2007 per bulannya penjualan baja KS mencapai Rp 1 hingga Rp 1,2 triliun. Bahkan di bulan November 2007 mencetak penjualan tertinggi yakni Rp 1,4 trilun.

"Hal ini bisa mendeksritkan KS apalagi di mata kompetitor KS, ini bisa dimanfaatkan untuk memasukan baja dari luar dengan dumping," tambahnya.

Menurutnya selama ini KS selalu dibandingkan baja impor yang berharga murah. Sehingga banyak yang memilih membeli baja yang diduga dumping.

"Jangan bandingkan harga produk KS dengan produk murah yang tidak memenuhi standar kualitas," ujarnya. (arn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads