"Sebagian wilayah masuk musim tanam tapi distribusi tidak merata. Hal ini menyebabkan harga pupuk naik di atas harga eceran tertinggi (HET). Padahal kebutuhan sedang naik, sawah yang kemarin kebanjiran sekarang mulai ditanami kembali," kata Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rachmat Pambudy dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (14/1/2008).
Untuk itu HKTI meminta pemerintah agar segera menunjuk distibutor khusus yang tugasnya hanya mendistribusikan pupuk subsidi bukan menjual. Rachmat mencontohkan premium yang hanya dibeli melalui pom bensin tidak seperti penjualan minyak tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada kemungkinan diselundupkan mengingat harga pupuk dunia sekarang US$ 350 per ton," jelasnya,
Menurutnya kondisi kelangkaan ini terjadi selama 6 bulan terakhir bersamaan dengan merayapnya harga minyak dunia. Sayangnya kata Rachmat, menghadapi masalah ini pemerintah santai saja menanggapinya dengan selalu mengatakan produksi pupuk cukup. Padahal kenyataan di lapangan pupuk sulit dicari.
"Kami sudah bicara langsung dengan menteri pertanian, tapi ya sama saja, anggota kami sudah tak tahan untuk melakukan aksi demo," ujarnya.
Rachmat menjelaskan masalah mendasar adalah produksi pupuk yang kurang. Solusinya produksi harus ditingkatkan dan melakukan rekayasa penataan distribusi.
"Dengan cara barang bersubsidi seperti pupuk dilarang diperdagangkan, tapi ditunjuk pihak yang khusus mendistribusikan. Seperti halnya premium didistribusikan lewat SPBU sehingga jarang ada penyimpangan. Apabila ketahuan ada yang memperdagangkan ditangkap saja," tegas Rachmat.
(arn/ir)
