Menurut Sekjen API Ernovian G Ismy sudah ada dua perusaaan yang tidak mendapatkan pasokan batubara. Kalaupun dipasok, harganya sudah mahal.
"Kita jadi serba salah, padahal kita sudah mau beralih ke batubara saat dihimbau pemerintah cari alternatif ketika BBM naik, malah sekarang batubaranya tidak ada," keluh Ernovian dalam perbicangannya dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (15/1/2008).
Ernovian menjelaskan barubara dipakai sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang dibangun swadaya oleh pabrik tekstil, dan untuk proses penguapan produksi. Sekitar 70% bahan bakar bahan bakar pabrik tekstil gunakan batubara, sisanya BBM dan listrik.
"Perharinya kita membutuhkan rata-rata 50-70 ton batubara, dan sudah ada 200 pabrik yang beralihgunakan batubara," ujarnya.
"Kebutuhan akan batubara semakin tinggi, sekarang baru 20% dari produksi batubara dipasok ke dalam negeri, seharusnya bisa sampai 60%," tambahnya.
Untuk itu API berencana akan melayangkan surat terkait permintaannya tersebut ke Menteri Perindustrian dan Menteri ESDM. Sebelum semakin banyak pabrik tekstil yang terganggu produksinya.
Asosiasi Pertekstilan indonesia juga mendesak pemerintah segera melakukan penerapan domestik market obligation (DMO) hingga 60% untuk batubara. Agar stok dan harga batubara stabil.
Sementara itu, Ketua API Jawa Barat Ade Sudrajat menjelaskan, pemerintah seharusnya punya buffer stock batubara yang digunakan apabila ada masalah pasokan dari produsen.
"Jangan sampai kejadiannya kayak kedelai, bergejolak tapi pemerintah tidak punya instrumen untuk menahan gejolak harga," jelasnya.
Menurutnya, saat ini pabrik tekstil di Jabar belum ada yang berhenti produksi namun cadangan stok batubara menipis. Dikhawatirkan produksi tekstil akan ikut menurun.
Dirjen Migas Simon Sembiring dalam wawancara khususnya dengan detikFinance beberapa waktu lalu mengatakan, pembatasan ekspor batubara akan mulai diberlakukan tahun 2009.
(arn/qom)











































