2.160 Produsen Tahu Tempe di Jawa Barat Gulung Tikar

2.160 Produsen Tahu Tempe di Jawa Barat Gulung Tikar

- detikFinance
Selasa, 15 Jan 2008 15:50 WIB
Bandung - Sebanyak 2.160 produsen tahu tempe di Jawa Barat tutup usaha sejak Desember 2007 akibat tingginya harga kedelai. Jumlah produsen tahu tempe yang gulung tikar itu mencapai 30% dari total 7.200 anggota Koperasi Tahu Tempe Jawa Barat.

Demikian diungkapkan Ketua Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia Jawa Barat Asep Nurdin di Bandung, Selasa (15/1/2008).

Pembuat tahu tempe yang gulung tikar itu rata-rata memproduksi di bawah 50 kg per hari. Sementara produsen tahu tempe yang memproduksi di atas 50 kg saat ini mengurangi produksinya hingga mencapai 50%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asep menjelaskan, kenaikan harga kedelai di atas Rp 6.000/kg terjadi sejak Oktober 2007 dan terus merangkak saat ini hingga Rp 7.800/kg. "Harga ini naik 100% lebih dibandingkan Januari 2007 yang hanya 3.500/kg," kata Asep.

Mengenai kebijakan pembebebsan bea masuk kedelai yang dilakukan untuk menekan harga, Asep mengatakan hal itu tidak cukup menyelesaikan masalah.

Asep mempertanyakan pembebasan bea masuk yang dilakukan pemerintah. Apakah pembebasan bea masuk itu untuk kedelai yang sudah masuk ke Indonesia atau masih dalam perjalanan dari AS.

Menurutnya, jika yang dimaksud adalah kedelai dalam perjalanan maka dampaknya baru akan terasa tiga bulan lagi. Sebab para importir kedelai di Indonesia saat ini masih punya stok hingga tiga bulan ke depan.

Namun jika bea masuk 0% berlaku untuk impor kedelai yang sudah tiba, menurut Asep hal tersebut juga akan membawa konsekuensi berupa pengembalian bea  masuk ke importir.

"Tapi itu akan ribet pemerintah harus menghitung secara cermat barang yang masuk dan pemerintah juga harus mengembalikan bea masuk yang sudah dibayarkan ke pengusaha," ujar Asep.

Jika pilihan kedua yang diambil pemerintah, Asep menghitung perkiraan stok kedelai saat ini  600 ribu ton, yang artinya pemerintah harus mengembalikan dana Rp 50 miliar kepada importir.

"Dari mana pemerintah menyediakan dana sebesar itu, ini mustahil," cetusnya.

Produsen tahu di Bandung saat ini juga sudah mengalami penurunan keuntungan karena tergerus biaya produksi yang tinggi.

Seperti Haji Ade, produsen tahu Cibuntu yang berlokasi di Jalan Terusan Suryani Bandung RT 13 RW 06 Kelurahan Warung Muncang, Kecamatan Bandung Kulon, kini mengalami penurunan keuntungan hingga 50%.

Ade yang sudah menjadi produsen tahu sejak 1976, kini harus mengeluarkan 50% lebih banyak biaya produksinya. Untuk menyiasatinya, Ade memperkecil ukuran tahu dan tempe.

Setiap hari Ade memproduksi 4 kuintal kedelai dengan harga kedelai saat ini Rp 7.350/kg. Selain biaya kedelai, Ade juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk minyak tanah. Ade butuh 160 liter minyak tanah per hari dengan harga Rp 3.000/liter. (ir/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads