Mengemis Soal Harga Minyak, Presiden Bush Menyedihkan

Mengemis Soal Harga Minyak, Presiden Bush Menyedihkan

- detikFinance
Rabu, 16 Jan 2008 10:33 WIB
Nevada - Sikap Presiden AS George Walker Bush yang mengemis agar negara-negara Timur Tengah menambah produksi demi menurunkan harga minyak dinilai 'menyedihkan'.

Kritikan itu disampaikan bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton berkenaan dengan kunjungan Presiden Bush ke Timur Tengah.

"Presiden Bush kini sedang ada di Teluk untuk mengemis ke Arab Saudi dan negara lainnya untuk menurunkan harga minyak. Sangat menyedihkan," kritik Hillary dalam debat kampanyenya seperti dikutip dari AFP, Rabu (16/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita semestinya memiliki kebijakan energi saat ini, membuat orang bekerja secara 'hijau' sebagai cara keluar dari resesi dan bergerak menuju independensi energi," tegas Hillary.

Presiden Bush dalam kunjungannya ke Timur Tengah memang meminta agar negara-negara penghasil minyak itu mengambil langkah penting untuk menekan harga minyak dunia yang sempat menembus US$ 100 per barel.

Karena negaranya kini sedang menghadapi resesi, Bush mengaku akan berbicara langsung dengan Raja Arab Saudi Abdullah tentang fakta tingginya harga minyak yang ikut mempersulit ekonomi AS. AS kini merupakan negara konsumen minyak terbesar di dunia.

"Dan saya akan berharap ---sebagaimana OPEC mempertimbangkan level produksi yang berbeda --- , mereka akan mengerti bahwa jika salah satu negara konsumen terbesar menderita, maka hal itu berarti berkurangnya pengeluaran, berkurangnya minyak dan gas yang terjual," kata Bush.

Atas permintaan itu, menteri perminyakan Saudi Ali al-Nuaimi hanya mengatakan, "kami hanya akan menaikkan produksi ketika pasar menghendakinya".

Merespons sikap Presiden Bush, harga minyak turun cukup tajam. Pada perdagangan kemarin di New York, kontrak utama untuk harga minyak jenis light turun hingga 2,3 dolar menjadi US$ 91,90 per barel. Dan di perdagangan Asia hari ini, harga minyak kembali turun 18 sen menjadi US$ 91,72 per barel.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads