Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi ECONIT yang juga mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dalam seminar Economic Outlook 2008 di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Rabu (16/1/2008).
"Di sektor kredit konsumsi, seperti kredit sepeda motor, kartu kredit, properti komersial mulai terbentuk gejala sejenis subprime lending," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyaknya hot money ini situasinya sama seperti pada tahun 1997/1998 dan ini menyebabkan harga saham kita naik terus di atas fundamentalnya yang meningkat 52 persen," ujarnya.
Aliran modal spekulatif ini menurutnya akan menggelembungkan nilai aset finansial dan memperkuat nilai tukar rupiah. Namun jika terjadi arus balik, nilai aset finansial dan nilai tukar akan jauh terperosok.
(dnl/ir)











































