Finansial Melambung, Riil Terpuruk

Finansial Melambung, Riil Terpuruk

- detikFinance
Rabu, 16 Jan 2008 11:45 WIB
Jakarta - Sektor finansial menjadi bintang di tahun 2007 karena memberikan return yang tinggi. Namun lonjakan nilai aset finansial itu justru membuat sektor riil semakin terpuruk karena sedikit sekali yang melirik.

Pengamat Ekonomi Rizal Ramli mengatakan situasi yang terjadi ini menyebabkan makin lebarnya kesenjangan antara sektor finansial dengan sektor riil.

"Sektor finansial terus menggelembung sementara sektor riil semakin terpuruk," ujarnya dalam seminar Economic Outlook 2008 di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (16/1/2008).
 
Selain itu, kelangkaan pangan dan kenaikan harga kebutuhan pokok akan terus berlanjut ada 2008. Ancaman kelangkaan dan kenaikan harga pangan itu dapat memicu masalah sosial politik yang serius seperti kejatuhan pada masa Soekarno dan Soeharto.
 
Mantan Menko Perekonomian itu mengingatkan, gelembung yang makin besar tersebut dapat pecah sewaktu-waktu.

"Namanya balon pada satu titik akan kempes atau meledak," katanya.
 
Dikatakannya, goncangan baik eksternal maupun internal dapat berakibat pada terjadinya arus balik hot money dan terkoreksinya balon finansial. "Indonesia sangat rentan terhadap shock," tegasnya.
 
Ia memaparkan terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan gelembung itu pecah mendadak. Antara lain, peningkatan ekspor dan cadangan devisa hanya ditopang oleh kenaikan harga komoditi internasional dan aliran hot money.
 
"Cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$ 57 miliar pada akhir 2007, lalu kenaikan harga saham terus menerus. Peningkatan indeks harga saham sebagian disebabkan oleh tingginya harga komoditas internasional, di mana investor tidak mengindahkan kondisi fundamental perusahaan kondisi bulish pasar modal masih akan berlanjut pada 2008," paparnya.
 
Di sisi lain, track record pemerintah buruk dalam meredam gejolak harga kebutuhan bahan pokok.

"Kalau saya lihat semua faktor dan dibandingkan dengan kondisi 1997/1998, bukan tidak mungkin meledak dan Indonesia kembali mengalami hard landing," tutur Rizal.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads