Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Festival Ekonomi Syariah di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (16/1/2008) .
"Pengalaman kita membuktikan di tengah krisis ekonomi 1998 ketika bank konvensional berguguran, ekonomi syariah bertahan , kemampuan bank syariah sebagai penopang ekonomi layak diperhitungkan," ujarnya.
"Industri perbankan di tanah air juga tumbuh baik dalam kurun waktu 17 tahun tota aset meningkat 15 kali lipat setara dengan pertumbuhan 61,2Β persen per tahun rata-rata year on year dari Rp 1,79 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 33 triliun pada akhri tahun 2007," lanjutnya.
Perbankan syariah juga berhasil mempertahankan kualitas aset yang cukup meningkat, hal ini terlihat dari NPF gross yang terkendali sebesar 6 persen, FDR dan pembiayaan yang cukup tinggi masing- masing sebesar Rp 24,64 triliuan dan 23,31 triliun.
"Sebagian besar pembiayaan dialokasikan ke usaha mikro kecil dan menengah dengan porsi meningkat. Jika akhir 2005 porsinya baru 66,8 persen maka pada triwulan I-2007 telah meningkat menjadi 72,6 persen," ujarnya.
Kedepan perbankan syariah harus memberikan kemaslahatan bagi masyarakat dan berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Pengembangan perbankan syariah, lanjut SBY, dalam jangka pendek harus diarahkan dalam pelayanan pasar domestik.
"Dengan kata lain perbankan syariah harus sangup jadi pemain domestik namun memiliki layanan bertaraf internasional," ujarnya. (ddn/qom)











































