Kenaikan harga kedelai diprediksi akan mempengaruhi kenaikan harga jagung dan pakan ternak. Jika hal ini terjadi, harga ternak terutama unggas akan meroket.
Demikian disampaikan Staf Ahli Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia, Waryo Sahru, saat jumpa pers di RM Ponyo, Jalan Malabar, Rabu (16/1/2008).
Menurutnya, saat ini pelaku dalam industri perunggasan tengah cemas sebab terancam oleh kenaikan harga jagung dan pakan ternak lainnya akibat kenaikan harga kedelai.
"Kenaikan harga kedelai ini akan memicu kenaikan harga jagung serta pakan ternak lainnya. Karena semuanya sama-sama di industri pertanian. Hal ini dipastikan akan mempengaruhi ongkos produksi peternakan yang akan naik," ujarnya.
Namun Waryo tidak menjelaskan berapa kenaikan harga jagung dan pakan ternak lainnya saat harga kedelai sudah mencapai Rp 7.800 per kg di pasaran saat ini. Harga jagung di pasaran kini Rp 2.800 per kg naik dibandingkan Desember 2006 yang hanya Rp 1.600 per kg. Sementara harga pakan ternak kini Rp 4.300 per kg, naik dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 3 ribu per kg.
Dengan adanya kenaikan biaya produksi peternakan, kata Waryo, akan berakibat kepada naiknya harga unggas.
"Saat ini harga ayam di kandang Rp 9 ribu per ekor, kalau sampai harga jagung dan pakan ternak naik mengikuti kenaikan keledai, mungkin harga ayam bisa mencapai Rp 12 ribu per ekor di kandang. Jika seperti itu, harga ayam di pasar bisa mencapai Rp 20 ribu per ekor," ujarnya memprediksi.
Jika harga ayam mencapai harga setinggi itu, kata Waryo, maka akan banyak masyarakat yang tidak mampu membeli ayam.Β "Akibatnya banyak masyarakat yang akan kekurangan protein baik nabati maupun hewani. Kalau orang kurang protein, akan cepat marah," ujarnya.
Lebih lanjut kata dia, perhatian pemerintah terhadap industri peternakan masih rendah. Padahal pertukaran uang di industri ini mencapai Rp 70 triliun per tahun.
"Sayangnya, pemerintah belum mengoptimalkannya. Malah melakukan impor untuk jagung, padahal bisa diproduksi sendiri. Impor jagung mencapai 1,7 juta ton per tahun," tuturnya.
(ern/qom)











































