Demikian dikatakan Ketua Umum Ikatan Pabrik Paku dan Kawat Indonesia (Ippaki), Ario N. Setiantoro, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Jumat (16/1/2008).
"Kami menyerah kalau bersaing dengan produk China. Dari 35 perusahaan, sekarang yang
beroperasi tinggal 25. Itu pun harus menurunkan produksi sampai 50%," keluhnya.
Saat ini harga paku produksi dalam negeri dijual dengan harga Rp 14 ribu per kg. Harga tersebut naik 180% dari harga jual pada awal 2007 yang sebesar Rp 5 ribu per kg. Sementara harga paku impor dari China, dijual dengan harga tetap pada kisaran Rp 8.800 per kg.
Ario menambahkan, akibat kondisi tersebut produksi paku dan kawat dalam negeri biasanya satu pabrik bisa mencapai 3 ribu metrik ton per bulan. Namun saat ini hanya mampu produksi sekitar 1.000-1.500 metrik ton.
Ario menuding bea masuk (BM) yang rendah untuk kawat baja sebesar 15% dan paku yang sebesar 5% telah memberikan kesempatan pada produk paku dari China menguasai pasar Indonesia.
"Oleh karena itu, kita meminta pada pemerintah agar menetapkan safeguard untuk melindungi industri ini," ujar Ario. (dro/arn)











































