Ia melihat perekonomian dunia saat ini lebih merupakan cerminan dari kondisi AS dan Eropa yang sedang menderita karena krisis pembiayaan.
"Tidak berarti langsung pengaruhnya ke Indonesia. Karena selama ini kita kan juga melihat masing-masing dilihat dari neracanya. Kalau seperti tahun 97-98, kalau memang situasi seperti itu, kita bikin seminar lagi dong. Saya rasa itu kan lebih karena doa-doa yang kurang baik," kata Sri Mulyani saat ditemui di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (17/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani tetap merasa fundamental perekonomian Indonesia saat ini sudah kuat. Hal itu terlihat dari utang yang sudah turun menjadi 39% PDB dengan porsi utang luar negeri hanya 50%. Demikian pula cadangan devisa yang sudah mencapai sekitar US$ 57 miliar.
"Exchange rate juga sudah fleksibel. Kemudian perbankan kita dari sisi neraca sudah lebih baik. Kan bisa dilihat dari indikatornya. Kalau mau melakukan perbandingan paralel, mestinya melakukan perbandingan statistik, jangan seperti nakut-nakutin saja," kritik Sri Mulyani. (qom/ir)










































