"Dengan harga terigu Rp 158.000 per karung seperti saat ini saja usaha kami sudah tidak lagi menjanjikan laba. Apalagi, kabarnya harga terigu terus naik setidaknya hingga Maret. Kalau begini terus kami gulung tikar," ujar Heri (34) yang merupakan pengusaha roti skala rumahan di kelurahan Parupuk Tabing, Padang pada detikFinance, Kamis (17/1/2008).
Menurutnya, pada kondisi normal dalam sehari usahanya menghabiskan setidaknya 7-9 karung terigu. Namun, setelah terigu mengalami gejolak harga sejak November tahun lalu total produksinya anjlok hingga 50 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga disampaikan Busri (42), pengusaha mie basah di Lubuk Buaya, Padang. Menurut dia, terus membubungnya harga terigu membuat usahanya bisa bangkrut. Apalagi, kenaikan harga terigu juga diikuti oleh sejumlah bahan baku mie lainnya, seperti bawang merah.
"Kalau sekarang, hasil yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya produksi berikutnya. Kalau begini terus kami bisa tidak makan. Makanya saya berencana menaikkan harga jual mie sebesar Rp1.000 per kg dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.000 per kg," tukasnya.
(yon/arn)











































