Setidaknya pendapat itu disampaikan Director Global Markets Research Deutsche Bank Singapore, Taimer Baig dalam acara "Global Markets Series 2008" di Hotel Shangri-La, Jl. Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (17/1/2008).
"Struktur ekonomi riil di AS masih kuat, walaupun terjadi penurunan drastis di sektor perumahan. Namun pada dasarnya, secara teknikal subprime mortgage (SPM) tidak berdampak besar pada sektor riil. Dampak yang sekarang terjadi lebih disebabkan faktor sentimen psikologis," jelasnya.
Β
Taimer menjelaskan bahwa ketika shock SPM terjadi, kepanikan muncul di kalangan pelaku pasar finansial besar. Dampaknya terjadi turbulensi di pasar modal, yang kemudian berpengaruh ke pasar-pasar modal di berbagai negara.
"Sebenarnya itu lebih kepada pada krisis informasi daripada krisis likuiditas," jelas Baig.
Kekurangan informasi, ia menambahkan, menyebabkan banyak lembaga finansial dan perbankan menjadi tidak konfiden, akibat kurangnya informasi mengenai apa yang terjadi di lembaga lainnya.
"Misalnya, kepanikan telah menyebabkan suatu bank tidak mengetahui seberapa stabil keadaan bank lainnya. Mereka berpikir bahwa keadaan finansial di mayoritas lembaga sedang tidak stabil. Akibatnya, mereka menjadi tidak konfiden. Dan itu menyebabkan turbulensi pasar," ujar Baig.
Baig memberikan bukti bahwa dampak SPM tidak begitu terasa di sektor riil AS. Ia mengatakan, walaupun setelah SPM angka penjualan dan harga sektor perumahan menurun drastis, ditambah terjadinya peningkatan pengangguran akibat terjadinya PHK massal, namun sektor konsumsi AS tidak menunjukkan penurunan signifikan.
"Itu menunjukkan struktur ekonomi riil AS masih kuat, dan income masyarakat AS masih stabil. Lagipula secara teknikal, sektor perumahan hanya memiliki porsi 1% dari total GDP AS," jelas Baig.
Oleh karena itu, Baig menyatakan AS sulit resesi. Baig, juga memperkirakan jika sentimen positif terus diberikan pada sektor finansial, maka semester dua 2008 akan terlihat recovery ekonomi AS.
"Dan akan terlihat recovery di berbagai negara. Tapi yang cukup sulit mungkin Asia, karena sistem finansial dan moneter mereka cenderung tertutup, sehingga lack of information bisa memperlambat proses recovery," tutur Baig. (dro/qom)











































