Demikian disampaikan Baig dalam acara "Global Markets Series 2008" di Hotel Shangri-La, Jl. Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (17/1/2008).
"Kita punya 3 skenario mengenai dampak kebijakan BBM terhadap harga minyak dunia. Jika harga minyak stabil di US$ 100/barrel, dan pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM hingga 20%, inflasi bisa sampai 11%," ujar Baig.
Menurut skenario tersebut, defisit APBN bisa naik menjadi 2,2% dan neraca perdagangan juga defisit 3,5%.
"Skenario kedua adalah jika harga minyak stabil di US$ 100/barrel, dan pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Maka inflasi akan berada di kisaran 7,5%. Sementara defisit APBN sebesar 2,5%, dan defisit neraca perdagangan sebesar 2%," jelas Baig.
Namun, Baig memprediksi harga minyak tidak akan stabil di angka US$ 100/barrel, melainkan pada kisaran US$ 75-80/barrel.
"Jika prediksi itu benar, maka angka inflasi akan sebesar 6,5%. Sementara defisit APBN menjadi 2% dan defisit neraca perdagangan sebesar 6,1%," jelas Baig.
(dro/qom)











































