Indonesia, Tak Bisa Begitu Lagi

Laporan dari Utrecht

Indonesia, Tak Bisa Begitu Lagi

- detikFinance
Kamis, 17 Jan 2008 19:43 WIB
Indonesia, Tak Bisa Begitu Lagi
Utrecht - Meskipun performa Indonesia dalam Vakantiebeurs 2008 di Utrecht sukses menarik perhatian, namun jelas nampak kendor di garis belakang. Pangkal sebab Jakarta kurang sigap.

Malaysia, Thailand dan negara-negara lainnya tampil solid dan lengkap. Di stan negara-negara tersebut tersedia brosur-brosur mewah, CD, cenderamata cuma-cuma dan buku-buku informasi lengkap dari departemen pariwisata mereka. Dukungan kuat departemen pariwisata negara-negara itu langsung tertangkap mata.

Hal demikian tidak terlihat di stan Indonesia. Brosur dari Depbudpar ada, namun terbatas dan kalah atraktif maupun jumlah item dibandingkan dengan para kompetitor. Terutama kompetitor langsung seperti Malasyia, Thailand dan Vietnam.

Dubes J.E Habibie saat dikonfrontir mengenai perbedaan penampilan dengan stan negara-negara lain langsung mengangkat bahunya. Menurut Dubes yang akrab disapa Fanny ini, KBRI Den Haag sudah jauh-jauh hari menyampaikan kepada Depbudpar mengenai pentingnya Vakantiebeurs ini untuk menyukseskan VIY2008.

"Kita tidak bisa lagi beranggapan 'Ah negeri kita indah, orang pasti datang'. Tidak bisa begitu lagi. Kita harus agresif menjual. Lihat India dan Malaysia, mereka sampai beriklan di CNN. Buat kita itu terlalu mahal. Di even-even semacam ini dan sekarang inilah saatnya. Kalau promosi baru siap Mei, ya sudah terlambat," tandasnya.

Fanny menambahkan bahwa setelah orang dipikat dan dibuat terpesona dengan sajian seni budaya, ini masih perlu dikawal dengan pasokan informasi, berupa CD atau buku, agar di rumah mereka bisa mendalami dan terdorong minatnya untuk datang ke Indonesia.

"Brosur-brosur dari Depbudpar itu saja harus dijemput ke Jakarta karena sudah mepet ditunggu-tunggu belum datang," cetus Fanny.

Sedangkan untuk penyajian One Hour Across Archipelago, yang merupakan sajian thumbnail seni budaya Indonesia, KBRI Den Haag terpaksa harus menggandeng KBRI Brussel yang salah satu stafnya, Made Wardhana, mengasuh sanggar Kembang Nusantara untuk gamelan dan tari Bali. Beberapa penari lainnya direkrut dari Belanda.

Ke depan Depbudpar diharapkan bisa menjadikan Vakantibeurs dan even-even serupa di Eropa, yang berlangsung serentak pada Januari, sebagai kalender tetap promosi tahunan. Kerjasama dengan Deplu yang memiliki jaringan kantor perwakilan di seluruh dunia juga diminta untuk dioptimalkan.
(es/es)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads