Hal ini disesalkan Asosiasi Perusahaan Agen Penjual Tiket Penerbangan (Astindo) dalam jumpa persnya di Hotel Intercontinental, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (17/1/2008).
"Negara yang lebih miskin dari kita seperti Kenya dan Nigeria saja pakai lokal currency kalau beli tiket pesawat ke luar negeri. Kenapa Indonesia masih pakai US dollar," cetus Ketua Umum Astindo Herna Danuningrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus punya nomor seri bagus. Seri tertentu, nilai tertentu, nggak boleh lecek dan ada coretan. Yang crispy-lah, kalau lecek nggak diterima," ujar Rudi.
Dengan syarat dollar yang seperti itu, lanjutnya, konsumen akan mengeluh karena harus mencari dollar yang bagus. "Agen ngak bisa nyetor ke maskapai kalau uangnya nggak bagus," kata dia.
Alasan maskapai karena nilai rupiah yang fluktuatif terhadap dollar, pun mengikuti kenaikan harga avtur, dinilai tak masuk akal. "Kan bisa nilai itu dikonversikan ke rupiah, nggak perlu pakai dolar," kata dia.
Menurutnya, transaksi yang menggunakan dolar ini adalah regulasi yang tidak tertulis yang diterapkan Departemen Keuangan. "Kalau pemerintah mewajibkan semua dijual dalam rupiah, semua maskapai akan ikut," imbuh Rudi.
Kebijakan pemerintah selama ini, lanjutnya, tidak mengedepankan rupiah. Padahal hal ini berkaitan dengan kebanggaan negara. Untuk itu Astindo mendesak pemerintah agar transaksi di dalam negeri menggunakan mata uang rupiah, khususnya untuk transaksi tiket penerbangan internasional.
"Tahun ini Visit Indonesia Year, juga 100 tahun kebangkitan Indonesia. Harusnya tahun ini kita hargai nilai tukar kita. Hal seperti ini Indonesia sendiri yang mengalami, di ASEAN nggak ada apalagi di Asia," pungkas Rudi. (nwk/nvt)










































