Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dalam jumpa pers acara Bankers Dinner di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat malam (18/1/2008).
"Kondisi global dengan ancaman resesi masih ada, kemudian yang kedua bisa kita garisbawahi bahwa ancaman kenaikan harga-harga komoditi masih cukup besar terutama dari harga minyak, yang sudah kita ketahui sampai sekarang," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan komoditi-komoditi agrikultur ini, untuk biofuel masih meningkat dan ini harus kita sikapi semua, dan pada dasarnya tantangan ini sebenarnya kita bisa mengambil keuntungan dari minyak dengan meningkatkan produksi dan juga komoditi-komoditi lainnya itu bisa kita produksi disini kedelai, jagung, palm oil palm oil. Sehingga kita bisa mendapatkan manfaat dari kenaikan komoditi ini," paparnya
Melihat tantangan ke depan BI mengeluarkan sebuah inisiatif di bidang moneter untuk memperkuat penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) agar menjadi sinyal kebijakan moneter kepada para pelaku ekonomi.
"Dalam memperkuat kebijakan moneter ini ada beberapa tactical move yang pada dasarnya kita ingin menyempurnakan day to day operation untuk monetary policy kita. Sehingga supaya PUAB itu lebih mencerminkan pasar ketimbang dia berfluktuasi dari yang rendah 3% bisa menjadi 12% dalam satu hari terjadi fluktuasi yang tinggi, melalui SBI Overnight," ujarnya.
Dengan mengeluarkan instrumen kebijakan SBI Overnight ini BI bisa lebih menyerap likuiditas yang berlebih.
"Kita akan melakukan pendalaman sektor finansial sehingga selain produknya akan lebih beragam, pasarnya juga lebih efisien, dengan juga mengaktifkan repo sehingga harganya lebih terkendali pada satu kisaran yang tidak terlalu fluktuatif," katanya. (dnl/ir)











































