Ekonomi RI Waspadai Resesi AS

Ekonomi RI Waspadai Resesi AS

- detikFinance
Sabtu, 19 Jan 2008 10:28 WIB
Jakarta - Meskipun indikator makro ekonomi membaik pada tahun 2007, pemerintah dan BI masih harus tetap berhati-hati dalam menjaga kondisi ekonomi di tahun ini. Kondisi eksternal yang belum menentu dengan ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan resesi AS terus diwaspadai.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dalam jumpa pers acara Bankers Dinner di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat malam (18/1/2008).

"Kondisi global  dengan ancaman resesi masih ada, kemudian yang kedua bisa kita garisbawahi bahwa ancaman kenaikan harga-harga komoditi masih cukup besar terutama dari harga minyak, yang sudah kita ketahui sampai sekarang," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain harga minyak, Hartadi menjelaskan harga komoditi juga mengalami kenaikan karena pada dasarnya negara di dunia ingin mensubtitusi energi bahan bakar yang berasal dari fosil melalui berbagai komoditi yang bisa gunakan menjadi biofuel.

"Peningkatan komoditi-komoditi agrikultur ini, untuk biofuel masih meningkat dan ini harus kita sikapi semua, dan pada dasarnya tantangan ini sebenarnya kita bisa mengambil keuntungan dari minyak dengan meningkatkan produksi dan juga komoditi-komoditi lainnya itu bisa kita produksi disini kedelai, jagung, palm oil palm oil. Sehingga kita bisa mendapatkan manfaat dari kenaikan komoditi ini," paparnya

Melihat tantangan ke depan BI mengeluarkan sebuah inisiatif di bidang moneter untuk memperkuat penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) agar menjadi sinyal kebijakan moneter kepada para pelaku ekonomi.

"Dalam memperkuat kebijakan moneter ini ada beberapa tactical move yang pada dasarnya kita ingin menyempurnakan day to day operation untuk monetary policy kita. Sehingga supaya PUAB itu lebih mencerminkan pasar ketimbang dia berfluktuasi dari yang rendah 3% bisa menjadi 12% dalam satu hari terjadi fluktuasi yang tinggi, melalui SBI Overnight," ujarnya.

Dengan mengeluarkan instrumen kebijakan SBI Overnight ini BI bisa lebih menyerap likuiditas yang berlebih.

"Kita akan melakukan pendalaman sektor finansial sehingga selain produknya akan lebih beragam, pasarnya juga lebih efisien, dengan juga mengaktifkan repo sehingga harganya lebih terkendali pada satu kisaran yang tidak terlalu fluktuatif," katanya. (dnl/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads