Batubara sebanyak itu, menurut Pelaksana Tugas Direktur Pembangkit dan Energi Primer PLN Fahmi Mochtar akan digunakan untuk 7 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dimilikinya.
Ketujuh pembangkit itu adalah PLTU Suralaya (3.400 MW), PLTU Paiton (800 MW), PLTU Tanjung Jati B (2x660 MW), PLTU Bukit Asam (4x65 MW), PLTU Ombilin (2x100 MW), PLTU Asam-asam (2x65 MW), dan PLTU Tarahan (2x100 MW).
Fahmi menjelaskan, dari semua kebutuhan itu, sekitar 80 persen batubara dipasok melalui kontrak jangka panjang.
"Secara umum 80 persen kontrak jangka panjang. Beberapa perusahaan besar termasuk di dalamnya (kontrak jangka panjang)," kata Fahmi ketika dihubungi detikFinance, Minggu (20/1/2008).
Salah satu kontrak jangka panjang adalah pasokan dari PT Bukit Asam (PTBA) Tbk untuk PLTU Suralaya. Sedangkan 20 persen sisanya merupakan pasokan dengan kontrak jangka menengah dan pasar spot.
Selain itu, PLN juga berencana menambah stok batubara untuk beberapa PLTU seperti PLTU Suralaya. Jika biasanya stok di pembangkit ini hanya 2 minggu, maka ditambah jadi 1 bulan.
Penambahan stok sudah mulai dilakukan akhir tahun lalu untuk menghadapi cuaca buruk sehingga pasokan bisa tersendat.
Dirut PLN Eddie Widiono sebelumnya menyatakan penambahan stok menjadi 1 bulan ini membutuhkan dana sekitar Rp 400-500 miliar. "Makanya kita harus tanya juga, duitnya ada gak," katanya beberapa waktu lalu.Β (lih/ddn)











































