menandatangani Head of Agreement (HoA) soal harga gas, Jepang selaku pembeli gas ingin harga tersebut kembali ditekan. Ini membuat Pertamina sebagai penjual akan mengajukan lagi skema harga yang baru.
Menurut Dirut Pertamina EP Tri Siwindono usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, pihaknya akan berembuk lagi dengan para stake holder pada 23 Januari mendatang.
"Pertamina, Medco, dan Mitusbishi difasilitasi BP Migas akan membicarakannya tanggal 23 Januari," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah diolah di kilang ini, gas berbentuk LNG akan diekspor ke pembeli dari Jepang, yaitu Kansai Corp dan Toho Corp. Awalnya volume gas yang disepakati untuk diekspor adalah 2 juta mtpa (metrik ton per annum) untuk pengiriman mulai tahun 2011.
Namun Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Takhyan menyatakan, jadwal tersebut kemungkinan akan mundur karena negosiasi harga yang belum menemukan titik terang hingga kini.
"Kemungkinan mundur kalau negosiasinya nggak selesai-selesai. Sekarang sama pembelinya belum sepakat, sama BP Migas juga belum," katanya usai RDP dengan Panitia Ad Hoc DPD di gedung yang sama.
Sebelumnya telah disepakati HoA untuk harga dasar (floor price) gas tersebut, yaitu
US$ 3,85 per mmbtu.
"Tapi kan ada range-nya, US$ 3,85 itu floor-nya. Kemudian ada fluktuatifnya. Itu yang
lagi dinegosiasi. Maunya miring kesini apa kesana," katanya.
Untuk perundingan harga ini, maka Mitsubishi Corp, Pertamina, dan Medco telah mendirikan perusahaan patungan (joint venture).
Selain negosiasi harga gas dari kilang Senoro, Iin menambahkan kalau perundingan perpanjangan ekspor LNG ke Jepang juga belum selesai.
Namun diketahui kalau shortage ekspor LNG ke Jepang tahun ini menurun dari 41,8 kargo pada 2007 menjadi 37,6 kargi di 2008.
Shortage menurun salah satunya karena komitmen pengiriman dalam kontrak juga menurun menjelang berakhirnya masa kontrak pada 2011. (lih/ir)











































