"Outlook ekonomi AS yang resesi mulai tertahan, ada sebagian masih mempertanyakan, ada sebagian yang optimis," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (25/1/2008).
Ia menjelaskan, beberapa kalangan yang positif atas perekonomian AS adalah yang memahami betul kondisi di AS, dimana ada koordinasi yang baik antara Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentralnya.
Misalnya, Menteri Keuangan AS sudah menjanjikan stimulus fiskal senilai US$ 150 miliar, sementara The Fed menurunkan suku bunga hingga 75 basis poin.Sementara dari Bapepam AS menjanjikan ada semacam jaminan dalam transaksi obligasi.
"Tapi kesemuanya ini kecuali penurunan fed fund rate, yang lainnya belum jelas rundown programnya seperti apa, ini yang masih ditunggu pasar," kata Budi.
Dengan semua upaya perbaikan dari AS tersebut, diharapkan seluruh perekonomian dunia ikut membaik terutama dimulai dari sisi pasar modal yang menjadi awal dari semua kekisruhan ini.
"Kita berharap akan terus bergulir, dan ini memberikan satu optimisme bagi BI dan pemerintah, karena kita punya komitmen yang kuat untuk mengarahkan ekonomi ini punya karakter dimana pilar inflasi semakin rendah. Ini tidak mudah tapi persiapan kami optimal," urainya.
Mengenai kondisi perekonomian Indonesia, Budi menilai ada optimisme ke arah perbaikan. Salah satunya adalah didorong oleh turunnya harga minyak yang sempat mencapai level US$ 86-87 per barel.
BI juga akan terus menjaga kestabilan rupiah karena gejolak mata yang terlalu berlebihan bisa membawa dampak yang buruk pada perekonomian.
"Beberapa saat lalu, mulai minggu pertama dan kedua Januari ada risk adversion dari pemilik modal, ada semacam panic selling, jadi ikut menambah konversi hasil dari rupiah ke dolar. Kami di BI paham betul bagaimana pergerakan rupiah dan bagaimana mencermati pergerakannya," pungkas Budi.
(qom/ir)











































