PLN Sebaiknya Tak Ngutang dalam Mata Uang Asing

PLN Sebaiknya Tak Ngutang dalam Mata Uang Asing

- detikFinance
Sabtu, 26 Jan 2008 10:39 WIB
Jakarta - Mandiri masih pikir-pikir memberik pinjaman dalam bentuk dolar AS untuk proyek-proyek PLN dalam rangka program percepatan pembangkit listrik 10 ribu MW. Pemberian pinjaman dalam mata uang asing kepada PLN dikhawatirkan menimbulkan mismatch.

Direktur Utama PT Mandiri Tbk Agus Martowardojo mengatakan bahwa pendapatan PLN yang berbentuk rupiah menjadi salah satu alasannya.

"PLN pendapatannya dalam rupiah, yang baik mereka meminjam dalam rupiah, hal ini tentu sedang didiskusikan dengan PLN sehingga tidak ada resiko mismatch curency. Kalau ini ada itu nanti utangnya menjadi besar, sedangkan sumber pembayarannya tetap kecil," tuturnya ketika ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat malam (25/1/2008)..

Agus mengatakan selama ini Bank Mandiri memang telah ikut serta dalam pembiayaan 3 proyek PLTU dalam program percepatan listrik 10 ribu MW antara lain di Labuan dan Rembang.

"Jadi Bank Mandiri sebetulnya merekomendasi untuk yang pendapatannya rupiah, sebaiknya pinjamannya dalam bentuk rupiah," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Sigit Pramono mengatakan bahwa Menneg BUMN sudah memberikan surat himbauan kepada para direksi BUMN agar tidak mempunyai masalah dalam pengelolaan valas kalau memberikan pembiayaan dalam bentuk US dolar.

"Makanya saya minta kontraknya (PLN) dalam bentuk dollar juga, meskipun kadang beresiko juga. Tapi kita akan selektif sekali karena sumber dana dolar kita juga terbatas, kita lebih senang dalam bentuk rupiah," imbuhnya.

Konsorsium 3 bank BUMN yaitu BNI, Bank Mandiri dan BRI diminta untuk membiayai kebutuhan pembiayaan valas untuk proyek PLTU Labuan, dikarenakan ABN Amro mundur dari kesepakatan karena suatu hal.

Akan tetapi Menneg BUMN Sofyan Djalil mengimbau direksi BUMN untuk berhati-hati dalam mengelola pinjaman dan dana dalam valuta asing dikarenakan situasi ekonomi global yang bergejolak dan berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads