Salah satunya produsen cokelat asal Inggris Cadbury yang datang ke Makasar untuk menjajal potensi itu. Cadbury yang pernah merelokasi pabriknya dari Indonesia ke Thailand itu berniat untuk kembali lagi. Hanya saja investasi Cadbury itu tidak diwujudkan dengan membangun pabrik.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Asoasiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim Abdul Razak dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (29/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Halim menjelaskan Cadbury selama ini mengimpor kakao dari Indonesia, namun karena rata-rata ekspor kakao dalam bentuk unfermentasi maka Cadbury ingin meningkatkan kualitas ke fermentasi. Akan lebih baik untuk peningkatan kualitas ini ada keterlibatan pembeli dalam mendorong petani untuk meningkatkan mutu.
"Saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga produsen kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Tapi dalam 5 tahun kedepan dari produksi 600 ribu ton akan menjadi diatas 900 ribu ton, dan akan mengalahkan produksi Ghana," ujarnya.
Hal tersebut membuat banyak pihak berniat menanamkan uangnya di Indonesia khususnya di Sulawesi sebagai pusat produksi kakao di Indonesia.
"Selain Cadbury, yang datang juga ada Cargill dan beberapa perusahaan lokal. Namun investasi itu ada syaratnya yakni tersedia infrastruktur yang memadai di Sulawesi khsuusnya listrik," terangnya.
Ia yakin adanya program pembangunan pembangkit 10 ribu megawatt yang digencarkan pemerintah maka masalah kelistrikan di Sulawesi dapat terpecahkan. Sehingga menjadikan Sulawesi sebagai pusat industri kakao yang terintergrasi.
Cadbury dalam pernyataannya mengungkapkan akan melakukan investasi US$ 87,16 juta untuk mendorong produksi kakao kualitas tinggi. Diantaranya untuk Ghana, Indonesia dan Karibia. Ghana sebagai produsen kedua akan mendapatkan 70% dari dana tersebut, yang akan dialirkan melalui Cadbury Cocoa Partnership tujuannya untuk membantu jutaan petani kakao.
(arn/qom)










































