"Kita tidak masalah, kita akan usaha cari cara lain," kata Dirut PLN Eddie Widiono usai penandatanganan pinjaman dengan Cexim Bank di Gedung Depkeu, Jakarta, Rabu (30/1/2008).
Menurut Eddie, PLN tetap membutuhkan sejumlah pinjaman dalam valas mengingat beberapa kebutuhan proyek terutama untuk 10 ribu MW harus didanai dengan valas, maka sebaiknya ada sebagian pinjaman yang berupa valas.
Seperti untuk membayar beberapa peralatan untuk pembangunan pembangkit yang didatangkan langsung dari pabrik di luar negeri.
"Kita kan harus bayar mereka pakai valas. Kalaupun kita utang rupiah, bayarnya tetap mata uang asing," katanya.
Tapi jika utang dalam rupiah digunakan untuk membayar keperluan mata uang asing, maka akan mempunyai resiko forex. Dimana nilai rupiah bisa berubah tiba-tiba.
"Kecuali kalau bisa di-fix-kan rate-nya, kita siap," katanya.
Hal senada juga disampaikan Menkeu Sri Mulyani. Menurutnya, semua potensi pembiayaan dalam negeri memang harus dioptimalkan, tetapi tetap saja porsi valas tidak bisa dihilangkan. Asalkan PLN bisa mendapat term pinjaman terbaik.
"Semua potensi pembiayaan dalam negeri kita maksimalkan, tetapi sebagian yang memang harus di-provide international konsorsium seperti bank Cexim ini atau lembaga keuangan lain, kita akan buka," katanya.
Apalagi, karena proyek 10 ribu MW ini merupakan mega proyek, Sri Mulyani menilai justru tidak sehat jika semua kebutuhan pendanaan difokuskan ke dalam negeri.
"Tidak baik kalau hanya difokuskan dalam negeri. 10 ribu MW ini kan banyak kebutuhan financing-nya," katanya.
Selain itu, mencari pinjaman valas pun ternyata tak mudah. Ketua Tim Proyek Percepatan 10 ribu MW Yogo Pratomo mencontohkan, kasus ABN Amro.
Awalnya PLN bernegosiasi dengan ABN Amro untuk mendapatkan pinjaman dalam bentuk dolar sebesar US$ 288,5 juta untuk pembangunan PLTU Labuan. Namun hal itu tidak berjalan lancar.
"Ada masalah internal," kata Yogo tanpa merinci.
Akhirnya, PLN berencana menggantikan ABN Amro dengan mengajak konsorsium bank-bank pemerintah untuk mendanainya.
Namun Direktur Keuangan PLN Parno Isworo mengelak kalau ABN Amro mundur dari pendanaan.
"Tidak mundur, kata siapa. Wong belum final, belum titik," katanya.
(lih/qom)











































