"Yang downstream ini belum sepakat, tapi sudah dekat. Februari selesai," kata Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin Takhyan usai RUPS Pertamina di Hyatt (30/1/2008) malam.
Namun menurut Iin, masing-masing pola ada kelebihan dan kekurangannya. Jika menggunakan pola lain seperti hulu, artinya semua pihak harus mulai lagi dari awal.
Harga gas yang dirundingkan adalah gas yang berasal dari dua lapangan, yaitu Matindok yang dimiliki penuh Pertamina dan Senoro yang dimilik Pertamina (50%) dan Medco (50%).
Gas itu rencananya dibawa ke kilang yang akan dibangun oleh Mitsubishi (51%), Pertamina (29%), dan Medco (20%).
Setelah diolah di kilang, gas akan dikirim ke pembeli di Jepang, yaitu Kansai Corp dan Toho Corp.
Sebelumnya pernah ditentukan harga patokan gas adalah US$ 3,85/mmbtu dengan patokan harga minyak US$ 35 per barel. Namun dengan harga minyak sekarang, harga gas bisa mencapai US$ 7/mmbtu.
"Ya bisa saja sampai segitu," katanya.
Karena harga yang dinilai tinggi, pihak Jepang ingin harga gas dari lapangan ke kilang bisa ditekan lagi, sehingga harga jual gas ke pembeli akhir juga bisa lebih murah.
Sebelumnya, Deputi Finansial dan Ekonomi BP Migas Eddy Purwanto mengultimatum agar negosiasi harga gas cepat diselesaikan maksimal akhir Februari 2008.
Jika sampai akhir bulan depan tak kunjung rampung, maka harus dicari alternatif lain seperti pola harga hulu (upstream) atau tender.
(lih/arn)











































