Demikian disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi detikFinance, Jumat (1/2/2008).
"Lifting 1.034 barel per hari memang harus diturunkan karena tidak realistis. Tapi kalau 910 ribu sama seperti tidak ada usaha. Kesannya pemerintah malas untuk berusaha," katanya.
"Lalu itu (pembebasan bea masuk) untuk apa? Katanya untuk menaikkan produksi, ternyata sekarang terbukti kan kalau tidak ada korelasinya dengan produksi," tambahnya.
Menurutnya, revisi yang sangat fundamental di APBN seperti asumsi lifting juga membuktikan bahwa target 1,034 juta barel bph sebelumnya tidak punya dasar yang kuat.
Pri Agung menjelaskan, asumsi harga minyak yang naik pun harusnya membuat pencapaian lifting makin optimis. Bukan malah disamakan dengan tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pri Agung menambahkan, naiknya volume BBM subsidi menjadi 39 kilo liter pun membuktikan bahwa program konversi tidak berguna."Kelihatan kalau konversi sebenarnya nggak perlu, karena tidak bisa mengurangi kuota," katanya.
Pri Agung merasa revisi asumsi energi di APBN jelas membuat APBN 2008 makin terombang ambing.
"Akan lebih realistis kalau liftingnya 930-950 ribu barel bph," katanya. (lih/arn)











































