Permintaan kenaikan harga itu menyusul adanya kenaikan harga baja yang mencapai 30% sejak triwulan IV 2007 sampai bulan Januari 2008.
Demikian disampaikan Ketua Umum Aspatindo Ahmad Fahmi dalam jumpa pers di kantornya, Rukan Royal Palace, Jalan Supomo, Jakarta, Jumat (1/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kenaikan harga baja saat ini, maka harga baru tower yang semula Rp 18.500-20.500 harus ditambah 24%.
"Kami sudah menyampaikan secara resmi kepada PLN, untuk diantisipasi sehingga tidak mengganggu proyek. Semakin dini semakin baik buat PLN," tutur Ahmad.
Pada awal triwulan III-2007, harga baja siku masih Rp 7.000 per kg, tapi diakhir triwulan IV-2007 sudah Rp 9.000/kg dan naik lagi di awal Januari 2008 mencapai Rp 9500-9.700/kg.
"Jadi dalam enam bulan terakhir saja terjadi kenaikan dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.500 atau naik 30%," kata Ahmad.
Aspatindo merupakan sub kontraktor dalam proyek pembangkit 10 ribu MW. Aspatindo memiliki anggota sekitar 15 perusahaan yang berperan dalam menyuplai 95% tower transmisi listrik.
"Untuk tower transmisi ini komponennya ada tiga yakni bahan baku baja, gavanized atau penerapan zat untuk anti korosin (Zinc), ketiga upah pabrikasi (upah buruh). Komponen yang paling signifikan adalah bahan baku baja dari cost satu tower 70%, penerapan anti karat 25% dan sisanya untuk upah 5-10%," jelas Ahmad.
Secara rata-rata Aspatindo bisa memproduksi 1.200 ton output tower per bulannya. Untuk hitungan kasarnya dengan asumsi tiap 1 km butuh 3 tower transmisi, maka dibutuhkan sekitar 100 ribu ton baja untuk membangun sekitar 12-15 ribu tower.
(ir/qom)










































