Harga baja sejak akhir triwulan IV-2007 hingga Januari 2008 sudah naik 30%. Asosiasi Pabrikan Tower Indonesia (Aspatindo) harus merogoh dana lebih tinggi untuk pembangunan tower yang diproduksi bagi proyek pembangkitan listrik 10 ribu MW.
"Ada global spekulasi karena sekarang orang bebas beli, dan bebas menjual, trader-trader itu melihat gejala ini dengan membeli billet (bahan baku baja) kemudian melepasnya pelan-pelan," kata Ketua Umum Aspatindo Ahmad Fahmi dalam jumpa pers di kantornya, Rukan Royal Palace, Jalan Supomo, Jakarta, Jumat (1/2/2008).
Kondisi ini, kata Ahmad, mirip dengan situasi tahun 2004 yang mengalami kenaikan harga baja tanpa sebab yang jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ahmad kenaikan harga baja selain karana unsur spekulasi juga terjadi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang kini berkisar US$ 90-100 per barel. Kenaikan harga minyak telah meningkatkan ongkos produksi.
"Harga baja bisa kembali turun, namun untuk kembali ke level normal tidak akan terjadi. Mestinya bisa turun tapi kapan dan levelnya berapa saya tidak tahu," ujar Ahmad.
Sebenarnya kata Ahmad, permintaan akan baja bisa dibaca jadi kalau niatnya spekulasi para spekulan itu bisa menghitungnya.
Misalnya di China membutuhkan sekitar 1 juta ton baja untuk olimpiade. Maka China memesan 3 juta ton baja seluruh dunia.
"Mulai tahun 2006 sebagian besar baja masuk China dan anehnya beberapa bulan kemudian keluar dari China. Saya tidak tahu apakah spekulan itu berada di China susah diprediksi. Kalau di Indonesia tidak ada spekulan baja, karena spekulasi itu membutuhkan dana yang sangat besar," tutur Ahmad. (ir/qom)











































